CERPEN: Why I Love Write


Sc. Pict. Pinterest.
“Dan aku harus berterimakasih padamu karena sudah bersedia hidup denganku di dunia nyata maupun dunia fiksi.”
.
.
Elevania. Sudah hampir dua jam berkutat di kubikel kayu dengan headset masih rapat di telinganya. Padahal, di Co Working Space ini juga memutar instrumen klasik yang nyaman untuk kerja.
Gadis itu memang suka sekali memakai headset meski tidak memutar musik melalui laptopnya. Artinya, ia sedang tidak ingin diganggu. Dengan cara itu, ia akan berpura-pura tidak dengar kalau lelaki di sebelah meja kubikelnya memanggil; atau bertanya hal tidak penting yang bisa mengacaukan pikirannya.


“Menurutmu… apa tokoh utama pria itu harus tampan?” tanya lelaki di sebelahnya. Tidak mendapat respon, “Hei… Apa aku sedang berbicara dengan patung yang bernafas?” lelaki itu menarik sandarannya dan menghadap Ele. “Kau dengar aku?”
“Aku tidak mendengarmu, Arba,” jawab gadis itu.
“Lalu bagaimana kau menjawab pertanyaanku barusan?”
Oh shit. Batin Ele. Tentu saja ia tidak sengaja menjawab. Ele membuka headset, “Kau mengganngu kerjaku, Arba. Lebih baik kau diam, atau buatkan aku ice coffe blend, okay.”
“Jawab dulu pertanyaanku.”
“Pertanyaanmu yang mana? Dari tadi kau banyak sekali bertanya,” protes gadis itu.
“Apakah aku tampan?” kata lelaki itu sambil memamerkan lesung di kedua pipinya. Masih menghadapkan badannya ke gadis itu.
Gadis itu mendengus kesal, “Oh ya ampun… sejak kapan kau sekonyol ini, Arba?” Ele kembali memasang headset. “Jauhkan wajahmu dariku. Atau aku bisa diabetes nanti.”
Lelaki itu segera menghilangkan lesungnya. Malah berganti dengan mengacak-acak rambut Ele. “Hei…” Ele mengibaskan tangan, mengusir tangan jail lelaki yang tiba-tiba saja ingin memiliki hobi yang sama dengan Ele. Menulis.
Gadis itu membenahi kacamatanya yang melorot dan merapikan rambutnya, lalu melanjutkan, “Kalau kita menulis fiksi, tokoh utama itu tidak harus memiliki sifat dan karakter yang sempurna. Tidak harus ganteng, berbadan tinggi, berkulit putih, pintar dan kaya. Supaya lebih terlihat manusiawi kita perlu juga memberinya kekurangan. Misal, tokoh utama itu meski ganteng tapi cuek, dan seperti itulah. Kau bisa simpulkan sendiri,” jelas Ele kepada Arba. Arba hanya mengangguk-angguk.
“Lalu menurutmu kekuranganku apa?”
Huh… tidak ada korelasinya dengan pertanyaanmu tadi, Arba.”
“Ada.”
Gadis itu menoleh. Lelaki itu senang melihat kerutan di jeda alis tebal milik si penulis.
“Bukankah aku tokoh utama di fiksi yang kau buat?” tanya lelaki setengah serius. Mata mereka saling tatap. Tidak pernah rasanya Ele semuak ini atas lelucon yang dibuat lelaki yang senang mengganggunya menyelesaikan novel—maksudku, ini sudah deadline.
“Bisakah kau buatkan aku kopi saja daripada membuatku ingin mual, Arba?” suruh si gadis dengan tatapan muak. Setengah bola matanya bersembunyi di kelopak atas miliknya.
“Yeah… aku hanya bercanda, Ele.”
Lelaki itu menormalkan duduknya. Kembali berkutat pada tulisannya yang urung rampung juga. “Kau menyewa tempat ini mahal-mahal dan kau hanya habiskan dengan diam, ngetik, minum kopi, lalu … pipis…,” Arba kembali menggerutu.
Tidak puas dengan reaksi Ele yang biasa aja—seolah tak peduli, lelaki itu membalik badan, matanya menyapu seluruh ruangan Co Working Space bernuansa biru orange, ditambah dengan lampu-lampu penerangan yang memadai sehingga Co Working Space ini memang cocok untuk orang-orang sejenis Elevania. Batinnya.
Di sudut lain, ia memerhatikan beberapa orang berdiskusi di meja panjang, mereka tampak serius saat salah satu dari mereka yang memakai jas berdiri lalu menyalakan layar proyektor yang sudah disediakan pihak Co Working Space ini.
Matanya berlaih ke sisi kiri ruangan. Orang-orang sibuk dengan laptopnya masing-masing. Tidak ada suara lain selain dari suara presentasi beberapa orang ber-jas tadi dan instrumen musik klasik yang diputar. Ini tidak asyik. Batin Arba. Ia mulai bosan.
“Apa kau mau kubuatkan kopi?” tawar Arba kepada Ele.
“Aku sudah menyuruhmu tadi.”
“Kau harus jawab pertanyaanku dulu.”
“Aku sudah menjawab.”
“Ini pertanyaan yang berbeda.”
“Oke.”
Arba menghadapkan kembali badannya ke gadis di sampingnya. Ia serius.
“Kenapa kamu suka menulis?”
Gadis itu menghentikan jarinya yang sedari tadi menari di atas keyboard, dan balik menatap Arba.
“Kamu sendiri kenapa suka menyanyi sambil main gitar?” Ele bertanya balik.
“Ele.. ayolah, kau tau sendiri alasanku. Tapi, aku tidak tau alasanmu kenapa begitu menyukai menulis.” Arba membuka headsetdari kedua telinga Ele, lalu meletakkannya di atas meja. Seolah ia serius ingin jawaban jujur dari gadis itu. “Aku pikir menulis itu pekerjaan yang membosankan,” lanjut Arba.
Ele menarik napas panjang, siap menjelaskan. “Arba, Aku menulis untuk mengekspresikan diri, mengungkapan apa yang ada dalam diri ketika tidak mampu kita ucapkan melalui lisan. Aku menulis untuk menghilangkan masalah yang meradang di pikiranku, yah, anggap saja itu terapi. Aku menulis untuk melarikan diri dari dunia nyata. Aku menulis untuk mengabadikan setiap moment yang pernah aku lewati.
“Manusia bisa saja lupa dengan kejadian-kejadian pahit maupun manis yang ia lalui, tapi jika ditulis, kita akan mengingat saat membaca. Aku menulis karena hanya dengan menulis aku bisa melakukan apapun yang aku mau, termasuk membuatmu menjadi manusia paling tampan di dunia ini, yeah… meskipun hanya fiksi. Tapi aku merasa puas setelah menulis hingga tulisanku dibaca oleh banyak orang.
“Kau tau, Arba, ungkapan seseorang melalui tulisan itu… adalah ungkapan paling jujur dan tulus. Kau harus percaya itu,” tutur Ele dengan takjub menjelasakan kenapa ia suka menulis.
Dan melanjutkan, “Dengan menulis, aku bisa mengubah pola pikir manusia juga. Coba pikir, sudah berapa banyak orang berubah hanya dengan membaca ‘sebuah’ tulisan?” gadis itu memberi pertanyaan retoris pada lelaki yang masih fokus mendengarkan penjelasan Ele.
“Dengar, aku menulis untuk keabadian. Umur manusia tidak panjang, Arba. Tapi dengan menulis, karyanya akan terus hidup meski raganya sudah tiada.” Lelaki itu takjub seketika.
Ele juga harus membawa-bawa nama penulis tersohor di dunia, seperti, J.K Rowling, J.J Tolkien, Kahlil Gibran, Dale Carneige, serta sederet penulis domestik, seperti, WS. Rendra, Chairil Anwar, Taufik Ismail, Supardi Djoko Damono, Sujiwo Tejo, Tere Liye, Habiburahman.
“Sebagian dari mereka mungkin sudah tiada. Tapi nama dan karya tulisan mereka tetap hidup. Iya kan?!” jelas Ele.
Arba menarik napas panjang. Matanya berbinar. Seolah mendapat hal yang tak biasa. Sedangkan Ele kembali memasang headset ke telinganya setelah ia rasa lelaki di hadapannya itu paham.
“Kau mau kubuatkan lagu?” tanya Arba.
“Arba, please… aku butuh kopi untuk sekarang, bukan lagu.” Ele membalas tatapan mesra Arba dengan kesal.
“Oke, baiklah. Aku akan membuatkanmu lagu setelah membuat kopi.”
“Deal.”
“Tapi ada syaratnya…”
“Apa?”
“Kau harus mengabadikan kisah kita dengan menulis. Aku mungkin tak pandai menulis seperti dirimu, tapi aku akan jadi pembaca setiamu,” tawar Arba membuat gadis itu berkaca-kaca, dan hanya di timpali dengan senyum yang mengembang.
“Dan aku harus berterimakasih padamu karena sudah bersedia hidup denganku di dunia nyata maupun dunia fiksi,” kata Ele dengan setulus hati.
-fin

Notes:
  1. Tulisan ‘nyeleneh’ ini ditunjukkan untuk dia yang bertanya kenapa aku suka menulis.
  2. Kedua kalinya, aku pengen banget ada yang jadi pembaca setiaku nanti, yg mau hidup di dunia nyata dan fiksi. Wkwkwk…(apa sih? Gaje dehhh…)
  3. Pliiisss… Ini gaje banget. Haha
Adbox