FAN FICTION: Confirming Feeling


Assalamu'alaikum...
Hay... hay.. hay... (Heboooh) xixixxi
Aku cuma mau ngeposting fanfic aku yang aku buat dari bulan lalu. sebenernya udah aku posting juga di wp aku tapi biar lengkap aku posting disini juga deeeh...
enggak tahu kenapa buat fanfic itu seru aja gitu. hehe... kan artist nya bisa kita pilih-pilih sendiri. hehe...
kayak yang satu ini.
Kalian bisa juga kunjungi kumpulan fiksi aku yang lainnya di https://furirain.wordpress.com/
cast nya :


Cast:

Kang Minhyuk — CNBLUE
Jung Eunji — A Pink
//

---------------------------------------------------
Confirming Feeling


Photo by Pinterest


“Kurasa kita tidak lebih dari seorang teman. Tapi kenapa aku selalu memikirkanmu? Apa ada yang salah dari diriku?”
Pernah menyesal terlahir sebagai wanita. Tidak. Jung Eunji hanya tidak suka perspektif orang mengenai wanita yang menyatakan perasaannya lebih dulu kepada lelaki yang ia sukai adalah bentuk merendahkan harga diri. Suatu bentuk diskriminasi. Menurutnya.

Sebelumnya gadis itu pernah sepakat pada dirinya sendiri untuk tidak akan memiliki perasaan apapun pada Minhyuk, lelaki yang ia sebut sebagai ‘Just Friend’. Tapi, siapa yang bisa menjamin ia tidak akan jatuh cinta kepada orang lain, sekalipun orang itu adalah temannya? Bahkan ia tidak bisa memilih kepada siapa hatinya akan jatuh ‘kan?
Gadis 21 tahun itu terlihat cemas. Mengacak-acak rambut dengan dua tangannya, dan membanting kening di atas meja belajar, asal. Yeah, normalnya satu atau dua orang teman karibnya yang tahu perasaannya sekarang, tapi ia malah mengumumkan bahwa sudah tujuh bulan netral. Itu bohong. Sebab diam-diam ia tertarik pada Minhyuk, teman membaca sekaligus teman bermain ludo. Eunji hanya tidak ingin merusak pertemanan mereka. Kau tahu?
Ini menyebalkan. Batinnya.
Ia memiringkan wajahnya, ganti pipi kirinya yang menempel pada meja. Sebagian rambutnya menutup beberapa bagian wajah. Rautnya masih saja kesal. Ia menatap buku di sisi kanan yang ia beli bersama Minhyuk seminggu lalu. Lalu beralih pada jam digital di sudut meja persegi itu. Sudah tiga jam molor dari jadwal waktu tidurnya. Ia bisa sakit kepala saat bangun pagi besok kalau tidak segera tidur. Karena susah mentolerir serangan darah rendahnya.
Ia bangkit dengan malas. Lalu menyambar ponselnya, sembarang. Dan melempar tubuhnya di atas kasur. Helaan napasnya terasa berat. Sudah beberapa hari ini ia selalu tidur kemalaman.
Eunji membuka ponselnya dan melihat beberapa foto dirinya bersama Minhyuk. Tiba-tiba hatinya merasa sangat rindu. Kau tahu sendirilah kepada siapa. Alhasil, otaknya mendorong ia untuk mengirim pesan kepada Minhyuk tanpa pertimbangan dahulu.
Sedang apa?
Pesannya. What the hell. Ini sungguh keterlaluan. Sudah tengah malam dan ia berani mengirim pesan. Eunji segera menekan-nekan pesannya, berharap ada pilihan cancel yang bisa ia pilih sebelum pesan terbaca. Namun tidak ada.
Ia meraung-raung penuh sesal. Melempar ponselnya asal dan membanting kaki-kakinya di atas kasur bergiliran.
“Oh tidak. Apa yang aku lakukan?” katanya sendiri sambil merengek.
Ting.
Tak lama, ponselnya berdenting. Ia spontan duduk dan meraih barang itu dengan tergesa.
Dari Minhyuk.
Bosan.
Besok temani aku ke toko buku, oke.
Balasnya. Gadis langsing itu mendadak berdebar. Ia mengulum senyum bahagia sekaligus menatap kecut layar ponselnya. Pertanyaanya; bagaimana mungkin ia akan bersikap normal saat berdua nanti? Dan mana mungkin Minhyuk membalas perasaannya? Minhyuk adalah lelaki yang jauh dari kata peka. Lagian mereka sudah terlanjur menjadi teman.
Ia membalas sekedarnya. Untuk terlihat normal dan  untuk terlihat tidak sedang menyimpan perasaan lain kepada laki-laki penggemar tanaman hias itu. Lalu merebahkan tubuhnya untuk sekedar menikmati perasaan lain yang ia pendam selama tujuh bulan namun ia enggan mengakui, bahkan kepada dirinya sendiri.
***
Minhyuk sudah menunggu di depan gedung kos. Eunji siap menuruni tangga setelah mendapat telpon dari lelaki kurus tinggi itu. Meski sudah berniat bersikap biasa, namun tetap saja ada keganjalan di setiap tingkah Eunji. Lihat saja, saat menuruni tangga sepasang manik arang milik lelaki kurus di bawah sana tak pernah lepas dari gadis di ujung tangga. Dengan dress up peach ia turun dengan hati yang masih berdebar sembari mengatakan dalam hati, dia temanku.
“Eunji-ah,” panggil lelaki itu.
Gadis itu membenarkan anak rambutnya ke belakang telinga. Sedangkan Minhyuk menggosok-gosok tengkuknya, aneh.
“Kita ke toko buku ‘kan?” tanya lelaki berjaket tebal itu.
“Yaaa… kau pikir kita akan kemana? Ciiih…” sangkal Eunji demi menutup harapannya. Kencan.
“Ini musim dingin,” kata Minhyuk.
“Aku hanya ingin mengenakannya saja. Daripada membusuk di lemari.” Eunji membela diri. Hei… kau tahu? Itu dress baru di beli kemarin. Tidak akan secepat itu membusuk ‘kan?
Ia langsung masuk ke mobil hitam Minhyuk. Lelaki itu segera menyusul dan mengemudi mobilnya. Di dalam mobil, mereka seperti dua orang asing. Entah bagaimana menggambarkan keheningan antara keduannya.
Merasa tidak nyaman, Eunji menekan pemutar musik dalam mobil. Suara merdu Ed Sheeran langsung memenuhi ruang sunyi di antara dua orang yang entah pantas disebut apa. Karena diam-diam Minhyuk memerhatikan gadis yang duduk di sebelahnya.
“Kamu mau cari buku apa?” tanya Minhyuk mengisi keganjilan di antara keduanya.
“Tidak ada,” balasnya.
“Jadi kamu hanya ingin menemaniku?”
“Hei… kau pikir aku hanya ingin membuang waktuku menemanimu?” sangkal Eunji, agak kesal.
“Tunggu!” kata Minhyuk yang masih menyetir. “Kenapa kamu harus kesal? Apa aku membuatmu marah? Apa aku mengganggu waktumu?” tanya Minhyuk beruntun.
“Aaah… bukan, bukan, bukan itu maksudku. Aku…” Eunji menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Ingin baca-baca dulu. Kalau ada yang menarik aku akan mengambilnya.” Eunji membenahi kesalahpahaman Minhyuk. Lebih tepatnya Eunji hanya bingung harus bersikap seperti apa. Ingin dianggap tidak memiliki perasaan lain malah terdengar seperti marah. Ingin terus menganggapnya teman, tetapi kondisinya sungguh berbeda. Tidak semudah itu bersikap normal di depan orang yang istimewa. Apa aku salah?
“Oh ya… ada buku terbaru dari penulis favoritmu,” ujar Minhyuk tiba-tiba.
Ha…” gadis itu kaget. Dalam batinnya, kalau lelaki itu hanya teman biasa mana mungkin masih mengingat siapa penulis favoritnya Eunji. Padahal Eunji pernah mengatakannya sekali di awal perjumpaan mereka. Pipinya langsung memerah. “Benarkah?” tanggapnya kemudian.
“Penulis Kim,” lanjut Minhyuk, “Dengan judul bukunya The Strangers Don’t. Kamu harus baca,” sarannya kemudian.
Gadis itu mengangguk dalam. Ia seolah mendapat sinyal dari percakapan itu. Atau itu hanya firasatnya yang keterlaluan. Pada detik itu Eunji ingin sekali cintanya tidak lagi sepihak.
Masih dengan Ed Sheeran dengan lagunya berjudul Friends, mobil terus melaju menembus dingin di musim ini. Kalau ia anarkis, ia pasti akan mengatakan kalau ia benar-benar menginginkan lelaki itu lebih dari sekedar teman. Yeah… begitulah bagaimana ia pernah hampir menyesal terlahir sebagai wanita.
Minhyuk memarkir mobilnya di pelataran gedung yang didominasi dengan kaca. Keduanya keluar hampir bersamaan. Lalu masuk ke dalam toko yang seringkali mereka kunjungi. Kyobo Bookstore cabang Gwanghwamun, Seoul. Tampilan luarnya tidak seperti sebuah toko. Itu lebih mirip dengan terowongan atau gua. Pintu masuknya berbentuk setengah lingkaran dan menjorok ke bawah. Yah, toko itu ada di bawah tanah. Tapi nuansa klasik di dalamnya sangat kental. Musim dingin lebih cocok untuk menghabiskan waktu di sini.
Buku-buku tersusun rapih di rak-rak yang berjajar sama tinggi. Di sudut ruang ada tempat yang disediakan khusus untuk membaca. Tapi Eunji memilih untuk berkeliling mencari buku yang dimaksud lelaki pecinta karya Joanne Kathleen Rowling itu. Lelaki itu malah entah tertelan di rak yang mana.
“Eunji–ah.”
Gadis itu menoleh ke belakang. Seketika terkejut melihat apa yang ada di hadapannya, begitu dekat. Matanya tebelalak saat wajah lelaki itu mucul dari balik buku berjudul The Strangers Don’t. Ia mengerjap-ngerjap kebingungan. Terlebih di dadanya, debaran yang terus membuatnya ingin mati. Mengapa lelaki itu jauh lebih tampan dari sebelumnya? Batinnya.
“Ini.” Minhyuk menyodorkan buku bersampul putih itu kepada Eunji. “Ku pikir kamu akan suka dengan ceritanya,” tuturnya, “Aku sudah baca sinopsisnya.”
Eunji masih menatap nanar lelaki di hadapannya. Lalu dengan cekatan meraih buku itu. Entah apa, gadis itu hanya merasa tersiksa dengan perasaaan dan pembatas diantara keduanya. Ia telah jatuh hati pada Minhyuk, akan tetapi ia tidak mungkin menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Tapi sungguh, ia ingin.
Setelah hampir dua jam mereka berkeliling, dari genre buku satu ke genre buku lainnya hingga membaca bersama di sudut ruang, kini mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah kafe. Sekedar ngopi dan menikmati dingin yang mengungkung mereka sembari menghabiskan bacaan mereka.
Letak kafe tidak jauh dari toko buku langganan mereka. Hanya perlu berjalan 100 meter dan kau akan temukan sebuah kafe bernuansa kuning hangat yang dipadu dengan bingkai jendela kaca berwarna hijau. Mirip Starbucks. Di sanalah kadang keduanya menghabiskan waktu untuk bercerita, atau bertanya tentang hal apa saja yang disukai dan yang tidak disukai, atau terakhir, bermain Ludo King yang berakhir pada kemenangan oleh Minhyuk.
Memesan dua cangkir coffee latte  favorite mereka dan memulai dengan percakapan ringan.
“Kamu nyaman dengan pekerjaan sekarang?” tanya Minhyuk sembari memulai menyeruput minumnya.
“Tidak,” jawab gadis itu yang hanya memegangi buku bersampul putih di atas pangkuannya.
“Uhuk…” batuknya, “Kenapa?” tanya Minhyuk penasaran.
“Tidak nyaman saja.” Eunji mengangkat pandangannya tepat pada manik coklat Minhyuk. Lelaki itu meletakkan cangkirnya di atas meja bundar yang menyekat keduanya. “Aku hanya ingin melakukan hal yang aku sukai,” lanjut gadis itu dengan tatapan serius.
Yeah… itu bagus. Aku setuju.” Minhyuk menyetujui.
“Minhyuk–ah,” panggil Eunji serius.
“Hei… aku tahu pekerjaanmu berat, tapi kamu tidak sedang jatuh cinta pada teman sekantormu ‘kan? Hahaha…” canda Minhyuk mencoba mencairkan suasana.
“Kang Minhyuk.”
Suara berat mulai menggantung di atmosfer jeda kedua teman lama itu. Menyadari Eunji memberi tatapan serius, lelaki itu akhirnya menyerah untuk bercanda. Minhyuk merapatkan tubuhnya ke meja kayu bundar mengkilat itu.
“Aku ingin mengonfirmasi satu hal,” kata gadis itu dengan wajah datar sekaligus ragu-ragu.
Minhyuk melipat tangannya di atas meja. Dan menyulam senyum di wajah tampannya. Matanya berkedip sendu. Seolah berkata, “Silahkan. Aku akan mendengarkanmu.”
“Kurasa kita tidak lebih dari seorang teman. Tapi kenapa aku selalu memikirkanmu? Apa ada yang salah dari diriku?” tanya gadis itu.
Lelaki di depannya merubah senyum menjadi hambar.
“Aku ingin marah kalau kamu dekat dengan wanita lain. Aku selalu ingin bertemu denganmu. Aku sedih jika kita akan berpisah di persimpangan jalan. Aku senang saat kita berjalan berdua. Aku selalu mengingat hal-hal yang kamu sukai dan yang tidak kamu sukai,” jelas wanita itu tanpa jeda.
Melihat lipatan di dahi lawan bicaranya yang tak bereaksi, ia semakin ingin mengungkapkan hal yang selama ini membuatnya resah. Gadis itu melanjutkan.
“Aku selalu menunggu pesan darimu. Aku selalu mencoba hal-hal yang kamu sukai. Meski aku sendiri tidak menyukainya. Tapi aku bahagia. Aku tidak bisa tidur karena selalu mengingatmu. Aku selalu ingin melihatmu.” Eunji menjeda. Menghela napas dan,
“Katakan padaku kalau perasaanku tidak sepihak?”
Eunji menghentikan kata-katanya. Ia meremas buku di pangkuannya. Kakinya bergetar. Jauh di dalam dadanya menyimpan rasa malu dan penuh harapan. Sebelumnya ia tidak membayangkan hal ini akan terjadi.
Minhyuk tidak tahu bahwa di dalam hati gadis itu ada hal yang terus memaksa.
Adalah menyatakan perasaannya.
Kini ia menunggu jawaban dari Minhyuk. Beberapa detik,
“Aku kira kau jatuh cinta pada rekan kantormu,” alih Minhyuk. “Tapi… bukankah pertemanan di antara kita berdua jauh lebih nyaman?” lanjutnya. “Maaf, Eun–”
“TIDAK!” potong gadis itu. Matanya mulai nanar. Tidak terasa matanya perih. Ia ingin berucap namun tercekat di panggal lidahnya yang kelu.
Kini kaca-kaca di matanya terlihat jelas di manik coklat lelaki di hadapannya. Lelaki itu tak berniat menyambung kalimatnya lagi.
“Cukup,” kata Eunji.
Ia tahu bahwa baru saja ia telah merusak pertemanan di antara keduanya. Jika musim semi lusa depan datang, jangan salahkan Minhyuk jika tidak mengajaknya melihat bunga-bunga bermekaran. Ini sungguh menyakitkan.
“Harusnya kau tidak perlu memerhatikanku secara berlebih.”
-fin-


Notas:
  1. Aku jarang banget pakai tokoh yang membernya boy band dan girl band. tapi nyoba gpp yaa… ku pikir, sih, asyiik gitu. xixixi…
  2. Yang aku heran,,, ini fun fic, tapi yang kebayang malah orang lain. Harusnya Minhyuk Oppa… (Tragissss)
  3. Maafkan aku yang masih amatiran. (Mianheeee…)
  4. Akhirnya penulis nyesek sendiri bab u… huaaa…
Adbox