FAN FICTION: Be Frank You

Photo by pinterest

Aku suka penulis, apa itu artinya ia menyukaiku?
-batin Yoonae


Ji Yoon Ae tidak benar-benar serius saat mengajak Taejoon. Baginya, itu adalah basa-basi paling basi yang menjadi jeda setelah keduanya menghabiskan semangkuk ramen di awal musim semi.
Beberapa orang akan langsung menolak ketika ditawari ajakannya. Yoonae hampir tidak ingin percaya pada lelaki yang baru di kenalnya itu. Tapi manik legamnya benar-benar membuat gadis di depannya menyerah untuk tidak percaya.
“Aku juga punya perpustakaan pribadi, kau tahu?!”
Bahkan Yoonae tidak butuh pernyataan itu dari lelaki di depannya.
Memaksanya untuk memasang wajah simpati. Batinnya sibuk menata emosi, sedangkan wajahnya mulai memerah seperti kepiting rebus. Hei…itu lebih mirip dengan tomat buah yang tadi pagi sebagai sajian jus ibunya.
“Bagaimana menurutmu?” ia menuntut pendapat pada Yoonae. Gadis itu berdehem dan melanjutkan, “Hanya tidak percaya kamu punya waktu untuk membaca.”
Seakan puas dengan jawaban Yoonae, Taejoon tertawa, memerkan gigi putihnya. Namun tetap menawan di mata gadis dua puluh satu tahun itu.
“Yoonae-ah, bahkan kamu bukan manajerku untuk tahu waktuku membaca ‘kan?”
Gadis itu mengulum bibirnya. Seolah salah bicara. Bodoh.
“Tapi presisimu tentang waktuku membaca….” lelaki itu memicingkan setengah matanya dan mengacungkan jempolnya di depan gadis yang terlanjur merasa salah omong. Yoonae mendengus kesal.
Ah, lalu kenapa ia bersikap seakan punya banyak waktu untuk membaca? Yeah, Taejoon hanya suka mengoleksi buku dan melihat buku-buku tertata rapi dalam perpustakaan pribadinya tan-pa-di-ba-ca. Dan itu akan menjadi hobinya untuk beberapa tahun selanjutnya. Membaca.
Taejoon mengubah posisi duduknya menjadi lebih serius.
“Omong-omong, kamu serius ingin jadi penulis?” Yoonae spontan mengangguk saat bibir lelaki itu melepas pertanyaan yang paling disukainya tanpa mempertimbangkan nada bicaranya. Se-de-tik, wajah memerah gadis itu mengubah raut tanya setelah mencerna kata miring yang baru ia sadari. Serius? Apa itu sebuah kata tentang kemustahilan?
“Maksudku….” lelaki itu membenahi duduknya setelah menangkap wajah salah paham gadis bermanik coklat itu. “Kamu ingin jadi penulis?” lurusnya. Ah, hanya perbaikan redaksional kalimat. Kali ini dengan nada lebih menyenangkan. Yoonae mengangguk. Poni depannya ikut bergerak naik turun.
“Aku suka penulis,” pernyataan Taejoon sebelum mengakhiri kopinya.
Tunggu!
Apa itu sebuah pengakuan cinta? Ah, bahkan Yoonae terlalu hina untuk mendengar pengakuan itu dari lelaki jangkung di depannya. Ini baru pertemuan keempat dari dua bulan kenal. Tidak mungkin Taejoon membuat pengakuan itu terlalu cepat.
Tapi, di negara ini semuanya bisa saja terjadi ‘kan?. Bahkan orang-orang bisa saling jatuh cinta hanya dalam hitungan detik.
Aku suka penulis, apa itu artinya ia menyukaiku?-batin Yoonae.
Yoonae menyudahi kemungkinan-kemungkinan mustahil setelah suara bariton itu mengajaknya pergi. Tidak ada pegangan tangan, tidak ada jalan bersisian. Lelaki itu lebih memilih berjalan di depan. Sesekali Yoonae menyusul langkah lebar Taejoon, tapi tidak berhasil. Lantaran Taejoon bukanlah pria peka pada umumnya. Yoonae hanya merutuki langkah kecilnya – lebih tepatnya ka-ki-pen-dek-nya.
.
Tubuh jangkung Taejoon lebih dulu memasuki toko. Ini bukan hanya toko, tapi lebih mirip seperti departemen store khusus buku dan alat-alat tulis. Gedung ini terdiri dari empat lantai. Lantai pertama berisi perlengkapan tulis menulis. Lantai kedua berisi buku-buku cerita, motivasi, novel, aneka resep, dan ilmu pengetahuan. Lantai ketiga berisi buku-buku sekolah. Dan lantai empat adalah lantai yang tidak boleh di masuki selain karyawan.
Tanpa ba-bi-bu Taejoon langsung menuju ke lantai dua. That’s good. Itu tempat kesukaan Yoonae. Dengan menaiki tangga, Taejoon tergesa melenyapkan tubuhnya di sela-sela rak buku yang tertata rapi. Sepertinya Yoonae kehilangan jejak Taejoon. Bahkan suara bariton yang sedari tadi mengoceh tidak lagi terdengar.
Tempat ini tidak terlalu besar, tapi cukup menyulitkan untuk mencari seseorang di sela-sela rak buku yang panjang dan banyak.
Yoonae menggeledah satu per satu sela-sela rak. Gadis itu melonjak-lonjak, menyembulkan kepalanya melewati tinggi rak kayu demi menemukan tubuh jangkung, berambut coklat tua. Barangkali ia menemukan sosok kepala yang ia cari. Ia bahkan tidak menyadari beberapa pasang mata memperhatikannya aneh, selebihnya hanya mengatai gadis itu berkaki pendek, lalu tertawa tipis.
Tanpa ia sadari tubuh jangkung yang ia cari juga berdiri diantara orang yang memperhatikannya aneh dengan kerutan di dahinya. Taejoon menyandarkan bahu kirinya pada rak dan memasukan tangan kanan pada kantong jeans-nya, diimbuhi seringai tawa kecil melihat aksi konyol gadis yang ia bawa ke toko buku ini. Memalukan.
Sejurus kemudian, gadis itu membalik badannya dan mendapati pose Taejoon yang lebih mirip dengan-ah, bukan mirip, tapi ia benar-benar model majalah yang sering ia baca.
Omo… Taejoon-ah.”
Yoonae terkejut setengah mati. Setengahnya lagi ia benar-benar terpesona dengan lelaki yang beberapa malam lalu mengganggu tidurnya. Lantaran kalimat aneh yang selalu ia kirim melalui SMS kepada Yoonae. Memangnya tidak ada cara yang lebih romantis ketimbang menerornya seperti itu ya? Taejoon memang lelaki brengsek-pikirnya yang mendadak saja.
Yoonae memilih diam mematung daripada kabur atau menutupi wajahnya yang terlewat malu. Bahkan sempat berfikir untuk berpura-pura mati saat manik lelaki itu menatapnya. Taejoon melepas sandarannya. Tangan kanannya ia biarkan anteng dalam kantong jeans. Lalu berjalan pelan mendekati Yoonae.
Taejoon mengulurkan sebuah buku pada Yoonae.
“Apa ini?”
“Buku,” jawabnya tanpa merasa berdosa.
“Aku tahu ini buku. Maksudku… bu…,” kata Yoonae terpotong melihat Taejoon meringkas jarak antara kedua tatapan mereka. Mungkin menjadi sejengkal.
“Bukankah aku katakan kalau aku suka penulis?”
Shit. Apa itu benar-benar sebuah pengakuan cinta. Ini benar-benar tidak romantis.
“Apa kamu menyukaiku karena aku penulis?” bantah Yoonae. Sedikit tidak terima jika ia menyukai Yoonae hanya karena ia seorang penulis.
“Aku lebih dulu menyukaimu daripada penulis.”
Yoonae terbungkam setelah kalimat terakhir Taejoon ditunjukkan untuknya. Seperti tidak ingin percaya.
“Apa ini hari pertama kita?”
Taejoon hanya tersenyum.
-fin-


Notes:
  1. Ini first time-nya aku nulis beginian. Jadi mungkin ada beberapa adegan yang (mungkin) nggak nyambung. Hehe… ditunggu reviewnya.
  2. Dan lagi, ini dapat inspirasi pas aku jalan-jalan ke toko buku. Makasih, deh, untuk seseorang yang udah jadi tokoh Taejoon oppa… miss miss
Adbox