FIKSI: Sekali Lagi Tentang Mantan

Photo by www.persian-star.org



Mantan itu enggak harus dikenang lhooo...
Tapi di kening. eh... apaan, sih?!
Okedeh... ini ada cerpen fiksi aku yang bukan aku ambil dari kisah nyata. Murni dari imajinasiku yang liar ya.
yuhuuuu... selamat membaca.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sekali Lagi Tentang Mantan

*

Satu hal yang menyebalkan dari hidup ini adalah teringat pada mantan yang lebih bahagia bersama orang baru

Satu hal yang menyebalkan dari hidup ini adalah teringat pada mantan yang lebih bahagia bersama orang baru. Yeah, setidaknya itu berlaku untuk seorang gadis yang udah satu tahun menjomblo, aku. Seberapa keras aku berusaha untuk keep smiling melihat foto ‘dia’ bersama wanita lain menghiasi beranda instagram dengan caption ‘ILY’ lalu emotikon hati berwarna ping di sampingnya, “Lima menit lalu,” dan sudah meraih 159 like.
“Waaah...,” rasanya darahku seperti mendidih di atas ubun-ubun. Kenapa harus se-so sweet itu, sih?  Aku merengut sendiri, lalu merengek sambil merepeti diri sendiri yang kalah bahagia dengan Gabas, mantanku setahun lalu.

Itu bukan foto pertama yang sengaja di unggah pada akun instagramnya. Ada sekitar 527 foto dan 104 foto lainnya adalah foto ia bersama pacar barunya. Dan pada setiap foto romantis Gabas dengan Rena selalu meraih ribuan liker dan komentar-komentar yang menyatakan kekaguman pada pengambilan foto romantis dengan view kafe sampai view pemandangan alam yang pastinya di ambil dengan camera D-SLR beresolusi tinggi. Bahkan fotonya tidak jarang di repost oleh akun-akun yang followersnya udah ribuan.

Sedangkan aku. Aku. Ah, sudahlah. Hanya bayangan masa lalunya. Seorang gadis yang temennya hanya tumpukan buku dan laptop, yang hari-harinya dihabiskan untuk bertapa di kamar kontrakan, ngetik, ngepost, balas komentar, dan ngopi. Satu lagi hal yang menjadi kesibukanku di tiga bulan terakhir ini adalah menjadi stalker Gabas dengan pacar barunya di akun Ig.

Kurang kerjaan memang, tapi bagaimana aku bisa menahan untuk tidak melihat foto dan membaca caption plus komentar-komentar Gabas yang terlanjur membuatku merasa iri. Merasa iri karena ia lebih bahagia bersama Rena.

Malam ini aku harus memperbaiki laptop jadulku yang tadi siang mati mendadak. Padahal aku berencana menulis cerita perjalanan salah satu teman SMA ku yang baru pulang dari Jerman. Barangkali tulisanku nanti akan menginspirasi orang-orang yang membaca blog garing ku. Eh, tapi malah terkendala laptop bututku yang sepertinya terserang virus. Maklum sudah lama tak peduli dengan virus-virus yang ternyata berkembang biak di laptopku. Alhasil, sekarang aku harus menunggu sampai laptopku pulih.


Kios yang juga menjadi toko elektronik tempat memperbaiki laptop tidaklah jauh dari kontrakanku. Hanya perlu berjalan 50 meter lalu belok ke kiri 30 meter dan belok ke kanan sampai bertemu jalan raya. Sebenernya jalan kaki bisa, sih, tapi malam ini aku merasa tidak enak badan jadi aku memilih untuk naik bus trans. Dengan jaket tebal dan tas ransel agak berat aku mengambil duduk di sebelah kaca yang mengembun.

Aku memandang keluar dan melihat sepasang muda-mudi yang menghabiskan malam minggunya di alun-alun kota menikmati jagung bakar. Aku hanya mengedipkan mata dan senyum sebelah bibir. Aku melihat jam tanganku, sudah jam delapan dan aku belum makan malam. Aku mendesah, ini bukan karena aku tidak punya uang atau dalam rangka diet, tapi aku lupa untuk makan malam gara-gara asyik mengobrak-abrik akun instagram Gabas dan pacarnya.

Aku menarik leherku, “Okay, berhenti di halte depan,” kataku sendiri. Aku berdiri dan segera bersiap di dekat pintu. Di dalam bus tidak begitu ramai jadi aku bisa melangkah dengan aman. Aku melangkah mendekati pintu keluar, dan, “Alana...,” seseorang berperawakan tinggi membuatku terperanjat, ia berdiri lengkap dengan camera kesayangannya yang menggantung di leher. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Ini pasti mimpi. Bagaimana mungkin dia, oh, ini pasti halu.

“Kamu mau kemana?” katanya dengan nada yang bersahabat. Lidahku masih terasa berat untuk menjawab. Tapi sebisa mungkin aku mengontrol emosi, “Hah... a... a... aku... mau turun,” jawabku yang sudah pasti terlihat gerogi dan salting. Oh ya ampun... bagaimana mungkin ia terlihat lebih tampan dari setahun yang lalu. Style-nya pun sudah berubah. Ini lebih trendi dan lebih keren. Sedangkan aku? Gila. Aku benar-benar tidak siap bertemu dengan Gabas saat ini. Dia pasti menyangka aku freak, bagaimana mungkin di musim panas begini aku memakai jaket tebal lengkap dengan hodie yang menutup kepalaku. Tidak pakai krem wajah ataupun bedak, tidak juga pakai lipstik. Oh ya ampun... bisa di ulang nggak 30 menit tadi? Dan aku akan sedikit berdandan, setidaknya agar tidak semalu ini.

Tunggu! Pertanyaannya, sejak kapan dia duduk di depan kursiku?

“Aku juga mau turun,” katanya sembari memasang tas ransel ke pundak, “Di halte depan, kan?” lanjutnya, aku mengangguk datar, masih sibuk mengingat kapan ia masuk ke dalam bus. Seingatku, tadi di depan adalah bangku kosong. Dan kenapa harus di bus yang sama. Padahal di kota ini ada lebih dari 10 bus yang melaju pada malam hari. Kenapa harus di bus ini?

Ia mempersilahkan aku untuk melangkah lebih dulu, aku melewatinya yang 10 cm lebih tinggi daripada aku. Sesaat kemudian bus berhenti di halte yang menjadi tujuanku. Aku melangkah turun dengan hati-hati di susul dengan Gabas dan satu orang yang tidak kenal. Tanpa berpamitan dengan Gabas, aku cepat-cepat ambil langkah seribu untuk kabur dari hadapannya.

Tapi nampaknya ini tidak berhasil saat aku menyadari bahwa ia sedang menungguku membalik badan dan mengucapkan salam perpisahan. Aih, aku terlampaui hapal sifatnya. Kuputuskan untuk membalik badan dan sejenak mengucapkan, “Sampai jumpa lagi.” dengan lambaian tangan kananku dan senyum lebar. Dan sekali lagi aku melongo, mendapati kosong di belakang yang ku kira Gabas masih berdiri di sana.

Aku lupa satu hal, bahwa itu sudah satu tahun lalu.
Demi menutupi malu, aku mengibaskan tanganku di udara mengusir nyamuk yang tidak ada seraya menyumpahi nyamuk yang tidak berdosa. Lalu tertawa seadanya dan berjalan mundur.

Dug.

“Kamu kenapa?”

Oh tidak, aku menabrak tubuhnya yang sigap menangkapku yang hampir terjatuh.

“Ga... Gabas...,” kataku dengan melotot tidak percaya. Kenapa dia tiba-tiba ada di belakangku sekarang. Apakah dia seorang Goblin, yang bisa berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya hanya dengan kejapan mata? Oh tidak.

Aih, betapa malunya aku. Jadi, dia sudah berjalan lebih dulu daripada aku tadi. Jangan bilang dia melihat tingkah bodohku barusan. Ya ampun, kemana harus ku sembunyikan wajahku.

“Nyamuknya udah nggak ada, kan?” tanyanya meledek. Aku berpura-pura tertawa, “Ha... ha... ha...,” lalu melengos meninggalkan dia yang masih terheran melihat tingkah konyolku.

Sial. Sumpah malu banget. Batinku.

“Alana, tunggu...,” teriak Gabas yang menyusulku. “Sudah lama kita nggak ketemu. Gimana kabar kamu?” tanyanya dengan menjajarkan tubuhnya berjalan di sampingku.
Aku yang masih malu-malu atas kekonyolanku tadi menjawab seadanya, “Baik, kok.” D
dengan kepala menunduk. Mungkin hodie jaketku akan menutup setengah dari wajahku. Itu bagus.

“Ngomong-ngomong kamu mau kemana?” ia sedikit menundukkan kepalanya ke arahku demi melihat wajahku. Aku malah menjauhi pandangannya.

“Mau ke toko itu,” jawabku dengan telunjuk ku arahkan ke toko alat-alat elektronik di seberang jalan.

“Kalau gitu kita sama.”

“Hah?”

“Aku juga mau memperbaiki cameraku, sekaligus cari lensa baru,” terang Gabas yang membaca ekspresi heran di wajahku.

OMG... kenapa harus sama, sih? Kan masih banyak toko elektronik lainnya. “Kamu tahu, kan, kalau aku langganan di toko itu. Pelayanannya bagus dan kerjanya good banget,” lanjutnya seolah mengerti isi pikiranku.

Aku hanya tidak menyangka kita akan satu tujuan. Aku berusaha untuk tidak peduli. Terus berjalan dengan setenang mungkin. Meski dihatiku bergemuruh. Ini beneran mantan, kan, yang jalan di sampingku? Batinku.

Sembari berjalan, aku terus bertanya dalam hati tentang arti dari pertemuan tidak sengaja ini. Dengan merutuki diri atas penampilanku yang sudah pasti jauh berbeda dengan pacarnya. Aku tidak percaya bahkan masih diberi kesempatan untuk berjalan bersisian dengannya meski dengan suasana yang sedikit canggung.

Terakhir kali aku berjalan dengannya adalah ketika aku pulang dengan menangis saat orang tua Gabas menyatakan bahwa aku tidaklah setara dengan keluarga Gabas.

Padahal, waktu itu adalah kali pertama Gabas mengenalkanku dengan orang tuanya. Kau tahu betapa bahagia mengetahui akan di kenalkan pada kedua orang tuanya. Namun, aku harus pulang dengan tangis dan hari itu juga aku dan gabas bersepakat untuk menjalani kehidupan masing-masing. Karena aku tahu bahwa hubungan ini tidak akan pernah baik tanpa ridho dari orang tua.

Sampai di toko, aku menyerahkan laptopku dan menceritakan permasalahannya. Seorang lelaki seumuran denganku mengangguk-angguk paham.
Ia mencoba mengotak-atik laptop bergambar princes Poppy dan Branch pada film animasi Trolls. Aku melirik Gabas yang mecocokkan lensa cameranya dengan lensa-lensa yang di tawarkan oleh salah satu karyawan.

Lihat, bahkan hatiku masih berdebar ketika melihatnya. Oh ya ampun... ini tidak boleh terjadi.

Lelaki yang mengotak-atik laptopku kini angkat bicara, “Wah, mbak, kayaknya butuh waktu nih untuk memperbaikinya.” Aku sudah menyangka, “Berapa hari, mas?” tanyaku, “Dua hari kayaknya bisa.” Aku menyetujuinya. Ku tinggalkan laptop kesayanganku dan terpaksa harus off dari blog yang aku kelola selama dua hari kedepan.

Suara yang tak aku harapkan tiba-tiba muncul, “Gimana?”

“Butuh dua hari untuk memperbaikinya, Bas.” Aku lalu bergegas meninggalkan toko.

“Alana tunggu!”

Dahiku berkerut.

“Kamu ada acara setelah ini?” Gabas menyusul dan memberiku pertanyaan aneh yang aku tahu arahnya kemana. Aku hanya menggeleng. “Mau makan nggak? Kebetulan aku belum makan. Kamu pasti belum makan, kan?” tanyanya yang sudah bisa aku prediksi saat ia bertanya kamu ada acara setelah ini?

Sebenarnya aku bingung dengan alasan apa aku harus menolak. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal sambil meringis. Aku sungguh tidak mau, tapi tangan kanannya terlampaui cepat menarik lenganku dan mengikutinya. Pipiku memerah. Hatiku berdebar hebat sesaat.

Kami berhenti di tepi jalan menunggu lampu hijau menyala untuk pejalan kaki. Kini kami sejajar. Aku memerhatikannya, dan benar saja, ia masih membuatku berdebar.

Satu tahun lalu bukanlah masa yang mudah untuk melupakan dia seutuhnya. Semakin aku melupakannya maka sekuat itu teringat padanya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menikmati hidup bersama bayangan masa lalu. Itu tidak begitu berat bagiku. Meski bisa dibilang hidupku tidak normal.

Tapi sejak tiga bulan lalu, saat ia resmi menjadi milik wanita lain, itu menjadi hal yang selalu aku kesalkan pada diriku sendiri. Entah mengapa itu terasa sangat menyebalkan.

Kini ia menggandeng tanganku dan membawaku pada sebuah restoran Korea yang dulu sangat sering kita kunjungi. Dan ia memesan menu seperti biasanya saat kami makan bersama. “Kamu masih sangat suka makan mi ramen, kan?” tanya Gabas yang mengambil duduk di depanku. Aku mengangguk.

Kami duduk berhadapan di atas meja lingkaran yang di atasnya terpasang alat penyedot asap. Karena restoran ini menyuguhkan hidangan lengkap dengan kompor untuk memanaskan makanan berupa daging sapi yang di potong kecil-kecil.

“Apa kesibukanmu sekarang, Al?” ia mulai membuka percakapan.

“Nggak ada. Cuma ini dan itu.”

“Masih sibuk nulis artikel di blog?”

“Hah?” dahiku sempurna berkerut. “Kamu tau?”

“Ya tau lah. Pemilik website You are my sunshine, kan?!” terangnya, “Aku sering kok baca artikel di blog kamu. Kamu nggak tau kan kalau aku jadi silent reader?”

Aku tidak tau harus berdialog apa lagi. Rasanya aku ingin segera pulang lalu menutup akun blogku. Kenapa? Kenapa ia tau kalau pemilik blog itu adalah aku. Aku tidak mengunggah foto ku, aku juga memakai nama samaran. Jadi, kenapa dia bisa tau?

Bukan apa-apa, tapi hampir semua isi di blogku adalah artikel tentang curahan hatiku. Yang pastinya itu menyangkut tentang dia. Meski aku tidak menyertakan namanya. Tapi ini sungguh memalukan. Gabas pasti tau kalau isi blog ku tentang dia. Karena sebagian kejadian dan peristiwa adalah yang pernah aku dan Gabas alami. Oh Tuhaaan...

Tidak lama, seorang pelayan datang membawa pesanan kami. Dua mangkung mi ramen dan yang lainnya adalah daging sapi, nasi, kimchi, sayur-sayuran, kuah, dan kompor kecil beserta pemanggangnya. It’s real time. Ini menu kesukaanku banget. Tapi dengan kondisi malu setengah mati ini, aku benar-benar tidak berselera makan lagi. Bisa di bungkus aja nggak, sih?

“Jadi, gimana dengan sunshine mu itu?”

Uhuk... uhuk... uhuk...,” aku tersedak kuah ramen pedas, tenggorokanku terasa terbakar. Dengan cepat Gabas menuangkan air mineral dalam gelasku. Dan memberikannya padaku. “Minum dulu,” tawarnya. “Pelan-pelan dong makannya, Al.”

Dasar bodoh. Bagaimana mungkin dia tanya sunshine-ku yang jelas-jelas sudah memiliki wanita lain. Apa maksudnya dengan pertanyaan itu? Ia sedang mengujiku atau benar-benar bertanya. Kurasa, ia hanya mengujiku. Lihat matanya sangat berbinar ketika bertanya sunshine-ku. Jiwa PD nya kini tinggi juga ya.

Aku kembali mengaduk-aduk mi ramen yang masih setengah penuh dengan sumpit. Mencoba mengabaikan pertanyaannya tentang sunshine-ku.

“Aku sedang magang di perusahaan Properti milik mitra kerja perusahaan Papa ku. Kalau kerjaku bagus aku bisa langsung direkrut di perusahaan itu,” terangnya tanpa ku minta. Aku hanya mengangguk menghargai. “Aku juga masih asyik menjalani hobiku sebagai fotografer jalanan,” ia memanggang daging sapi dan membalik-baliknya.

“Kemarin aku mengikuti kontes fotografi bertema jalanan dan syukurnya aku menjadi juara dua. Nggak nyangka juga bisa menang. Padahal fotografer lainnya lebih keren lebih bagus dan profesional banget.”

Ia menyodorkan daging sapi panggangnya yang di apit oleh sumpit di depan mulutku. Apa dia sedang menyuapiku? Oh tidak. Jantungku kini benar-benar berdebar kencang. Kenapa ia harus menatapku seperti itu?

“Cobalah dagingnya,” tawarnya.

Aku membuka mulutku dan melahap daging sapi itu. Aku mulai merasakan tanganku gemetar saat akan menyumpit mi dalam mangkuk. Gabas melanjutkan cerita tentang ini dan itu. Sesuatu yang kurasa tidak begitu penting tapi akan selalu seru untuk di ceritakan bersamaku, itu motto setahun lalu. Apa itu masih berlaku?

Saat ia banyak bercerita tentang hobi dan karirnya, aku hanya asyik mengaduk-aduk perasaan yang entah seperti apa. Senang, kesal, aneh, bingung, bahagia, benci dan lainnya. It the fuck moment, saat perasaan yang tidak bisa bekerja sama dengan kondisi untuk saling mengerti dan mengontrol emosi.

Adalah momen terkonyol saat aku diam dan sesekali tertawa hambar ketika ia bercerita tentang kemajuannya sedangkan aku masih tetap sama. Oh, sekali lagi tentang mantan. Andaikan kita bisa bertukar posisi?

Malam itu kami berpisah di halte tempat kita turun bersama tadi. Aku pulang dan ia ... ah, sudahlah. Ini kan malam minggu, dan ia punya pacar. Jadi kesimpulannya, ia malam minggu bersama pacar.

Rupanya hatiku masih saja merasa sedih ketika harus berpisah malam ini. meskipun makan malam itu agak aneh, tapi sungguh ia masih saja membuatku bahagia. Terkadang aku juga tidak terima saat ia memiliki pacar baru, nyatanya aku masih sulit untuk melupakannya.

Mungkin ia belum tau, bahwa aku telah bersepakat untuk tidak berpacaran lagi. Jadi, bukan karena aku nggak laku. Tapi karena aku tidak siap untuk patah hati kedua kali. Untuk apa pacaran jika ujung-ujungnya akan putus. Bukankah agama menganjurkan untuk menikah lebih dahulu baru pacaran? Okay, aku berpegang pada itu.

Dan asal dia tau, dia adalah mantan pertama dan terakhir.
***
Dua hari setelahnya.
Aku berniat mengambil laptopku, berharap laptopku kembali normal dan tidak memakan biaya mahal. Kali ini badanku terasa sehat, jadi aku memilih jalan kaki saja, mungkin akan memakan waktu tiga puluh menit.

Itu bukan masalah. Karena aku memang lebih suka jalan kaki atau naik bus. Jadi motorku lebih banyak diam di kontrakan.

Aku memasang headset di telingaku. Dan memutar lagu By My Side yag dibawakan oleh Maudy Ayunda feat David Choi. Kemudian memasang sepatu skates berwarna putih dan memakai topi wol berwarna senada dengan bajuku.

Bagi seorang blogger sekaligus penulis sepertiku, dunia luar adalah inspirasi dan kamar adalah tempat mengolah inspirasi itu. Aku lebih banyak di kamar karena mengolah inspirasi-inspirasi itu dan membuatnya menjadi sebuah sajian yang renyah untuk dinikmati para pembaca blog-ku.

Saat ini hampir 500 pembaca selalu berkunjung di blog-ku setiap harinya. Itulah mengapa banyak perusahaan online yang memasang iklan di blog-ku. Dari iklan itulah aku mendapat pemasukan uang. Lumayan, sih. Aku bisa membeli motor juga dari hasil blog-ku. Tidak masalah, sih, jika aku membeli laptop baru juga, tapi aku tidak mau meninggalkan laptop pemberian almarhum papaku.

Aku menyusuri jalanan yang masih ramai. Ini belum terlalu malam. Lagu By My Side membiusku dan berhasil membuatku mengikuti iringannya. Aku bernyayi lirih. Sampai pada bibir jalan yang membuatku berhenti ketika melihat di seberang jalan Gabas berdiri dengan wajah serius. Apa dia sedang menungguku? Tidak mungkin.

Aku terus menyebrang saat mobil-mobil berhenti karena lampu merah. Masih dengan lagu yang sama yang hampir terulang sebanyak tujuh kali. Aku berpura-pura tidak melihat Gabas. Tapi itu tidak berhasil saat ia menghadang jalanku. Wajahnya serius dan sulit untuk di artikan.

Aku justru berpikir yang iya iya. Apakah ia sedang berencana untuk berbaikan lagi denganku? Maksudku, dia masih mencintaiku. Aih, Ternyata tingkat kepercayaan diriku saat ini semakin meningkat.

Ia mulai berbicara. Bibirnya yang dihiasi oleh kumis tipis mulai komat-kamit. Aku tidak bisa mendengar suaranya. Karena musik di telingaku terlalu keras. Hanya bahasa bibir dan raut wajahnya yang yang bisa ku artikan secara bersamaan. Dan yang pertama meluncur adalah kata, “Ma-af.” Itu jelas sekali.

Wajahnya kembali mengembang senyum. Wajahku masih datar. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, lalu berwajah sedih. Dari wajahnya yang ku amati dalam-dalam, aku baru menyadari bahwa umurnya sudah menginjak 25 tahun. Ia tentu dua tahun lebih tua dariku. Itu umur yang sudah bisa dikatakan pantas untuk menikah, pikirku.

Dialognya panjang. Aku tidak bisa mnegartikannya satu persatu. Tapi aku bisa menangkap maknanya. Sebenarnya aku ingin membuka headsetku agar perbincangan kita jadi lebih seru. Tapi, saat ia meraih tanganku dan menggengamnya erat, aku menolak untuk membuka headsetku.

Biarlah aku tak mendengar sesuatu apapun darinya. Setelah ia melepaskan genggamannya dan menyodorkan sebuah kertas tebal dengan pita merah ditengahnya kepadaku, barulah aku menyadari arti dari pertemuan malam ini dan dua hari lalu.

Tidak lama, ia menangkupkan kembali kedua tangannya di depan dada dan kembali pada ekspresi sedih. Apa itu ucapan selamat tinggal?
“Semoga kau bahagia,”  kataku.

-fin-
Adbox