ORIGINAL FICTION: Reyana



REYANA
Photo Furi & Syahla
Fotografer Endra Saputra
 
“Aku terlanjur jatuh cinta pada Inggar. Bukan sebagai sahabat tapi sebagai seorang lelaki,” kataku.

“Kamu manis kalau lagi marah.” Ia tersenyum sembari memainkan cangkirnya. Menggodaku seperti biasa. Mungkin mengira ini waktu yang tepat untuk bercanda. Kemudian melihatku berwajah flat. Ia menghela nafas, “Maafkan aku, Li,” lanjutnya dengan tatapan serius.

Niatku menyesap aroma kopi dari cangkir putih itu batal. Apakah ia sedang berusaha mengubah mood-ku saat ini. Aku mengencangkan rahangku. Aku tak begitu mengerti apa arti permintaan maafnya. Karena bukan itu yang ku harapkan dipertemuan malam ini.
“Aku tahu aku yang salah,” ucapnya. “Aku tidak berniat mempermainkanmu. Sungguh.” Tangan panjangnya meraih tanganku di atas meja. “Aku ... Aku hanya–”


“Sudahlah,” potongku. “Aku yang terlalu bodoh, kau puas?!” aku menarik tanganku dari genggamannya.
Rasanya aneh. Kenapa aku harus merendah dan menyalahkan kebodohanku sendiri pada lelaki berbadan atletis itu. Jelas-jelas ini semua salahnya. Tapi aku benar-benar ingin menjalin hubungan yang baik dengannya. Seperti dulu. Saat kami berdua tidak lebih dari sekedar teman bermain catur. Jujur saja, aku masih ingin mengalahkannya di atas papan catur lalu mencoret wajahnya dengan lipstik merah milik Ifa. Atau sekedar iseng mencuri pioneer-nya ketika ia menoleh ke belakang saat aku berteriak, “Kecoa...!” ah... sudahlah. Sekarang aku sudah muak hanya dengan melihat wajahnya.
Aku menunduk. Mengepalkan kedua tangan di atas pangkuanku. Kesal.
“Jujur saja...” Inggar menghela nafas. “Aku mencintaimu, Lian.”
Aku mengangkat wajahku tidak percaya. Balik menatapnya. See, aku bahkan sudah memprediksi ini akan terjadi ketika Inggar secara pribadi mengajakku dinner.  Hanya saja aku benar-benar tidak siap dengan jawabanku kalau-kalau Inggar memintanya. Ah, tidak mungkin ia memintanya.
“Tapi...,” lirih Inggar dengan wajah bersalah. “Aku ... aku masih mencintai Reyana.”
Sudah kuduga. Batinku.
Huh, bahkan kamu masih bisa bilang–” ujarku dengan keras lalu memelan, “kamu mencintaiku ketika kamu masih mencintai Reyana,” lanjutku kesal. “Kamu sudah gila?! Kau tahu? Aku hanya ingin kamu bertanggung jawab atas segala perbatanmu padaku. Persetan dengan urusanmu dan Reyana.” telunjukku ku arahkan pada Inggar lalu padaku.
Aku tahu mungkin aku sedikit berlebihan dengan mengatakan bahwa Inggar harus bertanggung jawab terhadapku–maksudku, setiap kenyamanan, perhatian, pujian, dan semua yang Inggar berikan padaku–itu semua apa arti baginya. Tidak berartikah. Atau hanya aku yang terlalu berlebihan merespon segala kebaikan-kebaikan lelaki berjambang tipis itu. Aih, maksudmu, aku terlalu bodoh menjadi wanita untuk lelaki seperti dia.
“Lian, Okay. Forgive me, please!
“Ma-af...?” tanyaku penuh penekanan. “Kamu pikir kata maaf bisa buat aku kembali seperti dulu lagi?”
“Lian... kumohon mengertilah,” ujarnya dengan memelas.
“Mengerti?! Kamu minta aku mengerti?” aku menghela nafas. “Okay... aku mulai mengerti dengan permainan kalian berdua.”
“Lian...,”
“Kamu sengaja buat aku jatuh cinta dan setelah aku jatuh cinta kamu kembali lagi pada Reyana. Dan meninggalkanku. Begitu maksud kamu?!” jelasku. Mataku mulai perih.
“Lian, ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Dan–” ujarnya terpotong melihatku dengan sigap berdiri di hadapannya.
“Kalau begitu, lupakan aku!” kataku. “Dan aku akan melupakanmu.”
Aku memandang kesal Inggar yang masih duduk di kursi kayunya. Anteng. Ia hanya memandangiku dengan wajah menyerah dan tanpa sepatah katapun. Aku rasa ia mulai lelah meladeniku. Tidak ada pembelaan darinya. Setidaknya bernegosiasi atas ancamku barusan. Atau ancamku sama sekali tidak membuatnya berat. Melupakan aku, itu artinya ia harus menganggap aku tidak ada dan tidak pernah ada di hidupnya.
Ku alihkan mataku pada secangkir kopi panas yang sama sekali belum kunikmati. Mataku kini berair. Nafasku terengah-engah menahan emosi dalam batinku seperti ingin meledak.
Jangan pikirkan aku akan menumpahkan kopiku ke wajah bersalah Inggar. Tidak. Aku tidak se-anarkis itu, kau tahu.
Aku menggebrak meja dengan telapak tanganku. Meluapkan emosi yang tertahan. Beberapa orang di sekitar kami kaget dan menatapku sinis. Aku tidak peduli. Kemudian meraih tas dan melengos meninggalkan Inggar.
“Lian, tunggu!” Inggar menyusulku dari belakang. “Lian, tenanglah. Aku akan jelaskan.” ia meraih tanganku. Aku mengibaskanya ke udara. Aku tidak berani melihatnya, hanya takut kalau matanya akan menangkap pipiku yang basah. “Lian....” panggilnya lagi. Tampak seorang waitter kafe menahannya mengikutiku dan menagih pembayaran dua cangkir kopi.
Aku tak menghiraukannya. Setengah berlari aku menuju pintu keluar kafe yang otomatis terbuka saat jarakku satu meter dari pintu. Aku juga tak menghiraukan hujan di luar, yang akhirnya menyatu dengan air mata yang semakin deras. Ini lebih baik ketimbang Inggar harus melihatku menangis karenanya. Hujan akan menghapus air mataku. Dan aku harap akan menghapus ingatanku.
*
Beberapa pekan lalu–sebelum aku akhirnya memutuskan untuk melupakan Inggar, aku dan Reyana sempat bertemu lantaran permintaan Reyana. Ia ingin menceritakan sesuatu hal kepadaku tentang Inggar. Sepertinya serius. Awalnya aku kaget, kenapa Reyana tiba-tiba ingin membahas tentang Inggar yang ia katakan sudah tidak ada di hatinya lagi. Aku mengiyakan permintaanya meskipun waktu itu aku ada janji dengan Inggar untuk menemaninya membeli tinta printer sebagai keperluan kerjanya. Setengah hati aku batalkan janjiku pada Inggar, melihat betapa serius wajah Reyana saat mengajakku.
Kami berjalan bersisian menyusuri pantai. Tanganku ku biarkan menggelayut saja di udara. Biasanya aku menggandeng lengan sahabatku itu dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Tapi kali ini sepertinya ia sedang serius dan tak ingin melihat wajah sok manjaku. Sedari tadi aku belum melihat sesunging senyum di pipi putih pucat itu. Barangkali suasana hatinya sedang kacau.
“Li–” wanita berparas ayu itu mulai membuka percakapan. Dengan wajah datar, “Beberapa waktu lalu, aku bilang padamu bahwa Inggar sudah tidak ada di hatiku, kan?” tanyanya. “Iya,” jawabku. “Maafkan aku, Li. Aku berbohong padamu.”
Aku menghentikan langkah. Mengeryitkan dahi. Rencanaku bertingkah konyol kini mengudara.
Reyana membalik badannya, “Maafkan aku, Li. Mungkin aku bisa berbohong padamu. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri,” ujarnya. “Melihat kedekatan kalian berdua, entah kenapa aku cemburu. Selama ini aku mencoba untuk menahannya, tapi lama-kelamaan kedekatan kalian membuatku sakit hati,” lanjutnya. “Meski aku tahu kedekatan kalian hanya sekedar teman.”
“Jadi maksud kamu, kamu ingin aku dan Inggar–”
“Tidak Lian! Aku tidak menyuruhmu untuk menjauhi Inggar,” lanjutnya seolah membaca pikiranku. Reyana mendekat selangkah di hadapanku dan memegang lenganku persis seperti seorang kakak yang hendak menasihati adiknya. “Dengarkan aku, aku tidak memintamu menjauhi Inggar, tapi aku hanya takut kamu melibatkan perasaan di atas kedekatan kalian, dan–”
“Kamu terlambat, Rey,” desahku. “Kamu terlambat mengatakan itu.”
“Maksud kamu?” mata bulat Reyana menyipit.
“Iya. Benar,” jawabku seolah mengerti isi kepalanya. “Aku terlanjur jatuh cinta pada Inggar. Bukan sebagai sahabat tapi sebagai seorang lelaki,” kataku.
Reyana melepas tangannya dari lenganku lemas dan menatapku tak percaya. Bening air terlihat dari pelupuk matanya. Aku balik menatapnya dan menelan ludah seakan tak percaya dengan apa yang aku ucapkan barusan pada sahabat baikku itu. Dan aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan persahabatan kita setelah ini. Kata-kata itu keluar begitu saja.
Deburan ombak masih mengiringi kebisuan kami beberapa detik. Aku menangkap raut wajah kecewa wanita 20 tahun itu. Tapi, apakah ia juga menangkap raut wajahku yang jauh lebih kecewa darinya. Bagaimana bisa ia membohongiku tentang perasaanya pada Inggar lalu memasangkan kami dan mengatakan kami cocok jika berpasangan, dan lainnya. Jadi itu semua bohong. Dan ia menyembunyikan perasaannya. Kenapa. Batinku.
“Kenapa kam–” kataku terpotong. Reyana pergi dengan terburu. Aku melihatnya mengusap pipi. Aku berlari menyusulnya dan menarik lenganya. “Aku butuh penjelasan,” teriakku. Ia menarik kembali tangannya dengan paksa lalu berlari lebih kencang hingga tubuh kecilnya menghilang dari pandanganku. Aku urungkan niat menyusul dan meminta penjelasannya saat kutemui android-nya terjatuh di atas pasir.
Aku tercengang melihat pesan pada layar android-nya. Pesan dari Inggar. Dan aku sengaja membukanya.
Jujur, Rey. Aku masih mencintaimu. Jangan mencoba menjauhiku dan jangan kamu dekatkan aku dengan Lian. Aku takut Lian akan memiliki perasaan yang lain padaku. Ia tidak tahu apa-apa. Kumohon, jujurlah padanya bahwa kau dan aku masih saling mencintai. Kumohon.
Aku tertawa–menahan tangis. Ini gila.
**
Ku rebahkan tubuhku di atas kasur setelah membersihkan diri dari guyuran hujan deras. Memejamkan mata dan menghela nafas panjang. Kepalaku terasa berat. Tapi masih sibuk membayangkan peristiwa 30 menit lalu. Aku melirik jam digital di atas meja belajar. 21:45. Apa dia sudah kembali ke kos-nya dengan selamat. Atau dia terguyur hujan sepertiku. Aih. Aku bangkit dan duduk di tepi kasur. Kenapa aku harus memikirkannya. Batinku. Dia lelaki brengsek.
“Udah baikkan kepalamu, Li?” tanya Ifa dari balik pintu dengan membawa teh hangat untukku. “Emm....” jawabku dengan anggukan kecil.
“Kamu dari mana aja sih, Li? Pulang-pulang basah kuyup gitu,” tanya Ifa, ia mengambil posisi di sampingku dan mengoles sedikit minyak kayu putih ke punggungku dan memijatnya perlahan. Sesekali aku cendawa.
“Nggak kemana-mana, Fa.” Jawabku, lalu cendawa.
“Ck...ck...ck... nggak mungkin nggak kemana-mana basah kuyup gitu.” Ifa membuka tutup botol minyak kayu putih dan menuangkan sedikit ke tanggannya, mengoles ke bagian leherku. “Nunggu hujan reda kan bisa. Atau pakai payung.”
Aku hanya diam saat Ifa menasihatiku. Hal-hal demikian sama sekali tak terpikirkan olehku dalam situasi hati yang sedang emosi seperti tadi.
Tiba-tiba android-ku berdering. Ku raih sesegera mungkin. Satu pesan via messengger. Aku terhenyak melihat gambar yang muncul pada balon percakapan. Lalu ku lempar di atas kasur.
“Kenapa nggak dibuka, Li?” tanya Ifa penasaran. Aku menggeleng. “Bukankah itu pesan dari Inggar?!”
“Aku sedang tidak mood membicarakan dia, Fa,” jawabku.
Ifa mengambil secangkir teh hangat dan memberikannya padaku, “Kalian berdua aneh.” ujar Ifa.
“Kalian berdua?!” dahiku berkerut. “Maksudmu, Aku dan Inggar?” tanyaku memastikan.
“Bukan...” Ifa menggeleng. “Maksudku, kamu dan Reyana,” lanjut Ifa sambil menyeruput teh hangatnya. “Kemarin Reyana tiba-tiba menangis, aku pikir dia sakit kepala atau sakit gigi, ku tanya ada apa tapi Reyana hanya menggeleng dan bilang dia baik-baik saja. Setelah ku selidik, ternyata Reyana sedang chattingan dengan Inggar. Kurasa ada sesuatu yang–”
“Fa!” aku memotong konklusinya. “Aku ngantuk. Aku mau tidur,” alasanku. Ifa menyipitkan matanya. Aku tahu apa yang akan ia simpulkan. Dan aku memilih untuk tidak ingin mendengarnya. Entahlah. Aku hanya sedang tidak ingin mendengarkan apapun tentang mereka berdua. Sumpah.
Aku melempar tubuhku di atas kasur secara sembarang dan meraih android-ku lalu mengetuknya dua kali. Wallpapper fotoku bersama Inggar menyapa begitu ramah dengan kumis dan kedua telinga kelinci yang lucu di kepala kita, efek kamera B612. Jari telunjukku membuka galeri. Serta merta fotoku bersama Inggar berhambur memenuhi layar android-ku. Dengan getir aku membukanya satu persatu.
Aku tersenyum kecil melihat foto Inggar menyodorkan jagung bakarnya padaku. Aku ingat waktu itu kami sedang berjalan-jalan di jembatan merah di atas muara dekat laut, menghabiskan malam berdua dan memandang kerlap-kerlip lampu dari kapal-kapal nelayan yang menepi ke muara. Angin malam yang berhembus dari laut membuatku kedinginan, kemudian dengan ligat Inggar melepas jaketnya demi menutup tubuh kecilku. Aku tersenyum dan ia pun membalas senyum lebih lebar lagi.
Ku geser lagi layar android-ku, dan ku temukan foto Inggar sedang bermain gitar menghadapku. Waktu itu aku hanya iseng menanyakan bagaimana kunci F#m, kemudian ia menyuruhku memegang gitar sendiri, dan tanpa aba-aba ia berdiri di belakang punggungku dan menyentuh jemari lentikku lalu menempatkan ujung jariku pada senar hingga membentuk kunci F#m. Ia memetik senarnya dengan indah.
Ting.
Lamunku buyar ketika mendapati balon percakapan via messengger muncul. Inggar.
Lian, apa kau sudah sampai kos?
Kenapa tidak balas pesanku?
Rasa kesalku pada Inggar kembali muncul, masih belum reda meski melihat beberapa kenangan bersamanya. Aku masih mengingat bagaimana mereka mempermainkan perasaanku. Aku masih merasakan sakit hati ketika mengingat betapa teganya mereka.
Aku menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhku, lalu memejamkan mata dan berharap esok aku akan lupa segalanya. Termasuk siapa aku.
***
Sudah beberapa minggu hubunganku dengan Reyana tidak baik. Kami berubah menjadi dingin satu sama lain. Aku tidak pernah lagi menanyakan bagaimana ia bisa membentuk alis yang simetris seperti itu. Itu wajar–karena aku tak pandai berdandan meski sudah beberapa kali diajari olehnya, tapi ia masih saja sabar. Aku juga tak pernah lagi mampir ke kamar kos-nya meski kamar kos kami bersebelahan. Apalagi berbagi makanan. Padahal hal itu adalah yang biasa kami lakukan setiap malam sebelum menonton drama Korea. Suasana menjadi lebih canggung. Pun pada dua sahabat kami, Ifa dan Cika yang ku lihat selalu berbisik tentang bagaimana aku dan Reyana bisa saling bermusuhan. Tepatnya, tidak saling berbicara dalam waktu yang lama.
Jika aku ingin menanyakan sesuatu pada Reyana, tentulah Cika jadi perantaranya. Dan jika Reyana ingin menanyakan sesuatu padaku, tentulah Ifa yang menjadi perantaranya. Tentu saja pertanyaan-pertanyaan keseharian, misalkan, apakah aku meminjam bukunya, apakah aku membawa charger android-nya, dan lain-lain. Jika secara tidak sengaja kami berpapasan kami akan saling buang muka. Seperti itu hubungan kami sekarang.
Lama kelamaan kondisi itu membuat aku lebih muak dari pada sekedar melihat wajah bersalah Inggar. Aku masih ingin menuntut penjelasan pada Reyana dan Inggar atas perlakuan yang mereka lakukan padaku. Meski aku akan lebih sakit lagi ketika mendengar penjelasan mereka.
Siang itu, Ifa menyampaikan pesan dari Reyana seperti biasa.
“Tok... Tok... Tok, ada surat dari kantor Pos,” ledek Ifa. “Li, kamu ditunggu Reyana di pantai sekarang.”
“Siang bolong gini?” tanyaku.
“Ya iya. Dia bilang sekarang,” jawab Ifa.
“Aku sendiri?” tanyaku sekali lagi. Ifa hanya manggut-manggut.
Sebenarnya aku masih sangat kesal melihatnya apalagi mendengar suaranya, tapi aku tidak memiliki alasan apapun untuk menolak. Dengan terpaksa aku mengiyakan.
Di pantai, sebelum akhirnya aku menemukan Reyana dan Inggar duduk bersebelahan pada batang kelapa yang hampir lapuk, aku berencana untuk menjawab setiap pertanyaan atau pernyataan Reyana dengan jawaban iya atau tidak, karena aku benar-benar tidak mood berbicara dengannya apalagi berbicara masalah Inggar. Tapi, melihat mereka sekarang aku  malah befikir untuk berdiam saja lebih baik–atau malah aku kabur saja sekarang. Matilah. Aku sudah tertangkap oleh mata coklat Inggar.
“Lian.” namaku meluncur dari bibir Inggar.
Aku berjalan mendekat ke arahnya. Karena sudah tertangkap, aku lebih baik menghadapinya dengan asal. Jujur saja, aku akan mengira ini akan seperti sebuah telenovela atau cerita romance cinta segi tiga. Begitu sepertinya.
Aku melipat kedua tanganku di depan dada. Kali ini senyumku mahal untuk mereka berdua. Mereka menyambutku dengan berdiri.
“Kamu sudah datang?” tanya Reyana dengan lembut menyunggingkan senyum. Tak bisa kupercaya dia bersikap lembut menyambut kedatanganku di depan Inggar. Biasanya ia hanya buang muka ketika melihatku.
Aku tak memperdulikan. Suasana jadi lebih canggung.
Ini dua minggu setelah terakhir kali aku bertemu Inggar di kafe malam itu. Dan ia masih kelihatan handsome.
“Maafkan aku, Li,” ujar Reyana. Ia menghadapkan aku tepat kehadapannya, “Aku tahu aku salah. Aku tahu kamu marah padaku. Tapi, please, jangan anggap aku musuhmu.” Reyana maju selangkah mendekatiku dan aku mundur selangkah menjauhinya. “Li, sejujurnya, aku ingin menguji kesetiaan Inggar saat itu. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana ia mempertahankan perasaanya terhadapku. Itulah kenapa aku selalu memasangkan kalian berdua, karena aku kira dengan begitu aku akan tahu. Dan ternyata–”
“–dan ternyata kamu malah cemburu,” sambungku ketus.
“Aku akan jelaskan,” kini giliran Inggar. “Jadi, ini hanya kesalahpahaman saja, Li.”
Aku tidak mengerti apa yang ia maksud dengan kesalahpahaman.
“Aku dan Reyana tidak bermaksud membuatmu begini. Maksudku, kami tidak bermaksud membuatmu merasa dikhianati dan sakit hati.” Inggar melihat Reyana sejenak, mungkin ia takut salah bicara di depan Reyana. “Jujur, Aku masih mencintai Reyana.” dan mereka berpandangan. “Aku mendekatimu karena aku merasa Reyana sudah tidak mencintaiku. Aku pikir dengan mendekatimu itu akan membuatku tahu apakah Reyana masih mencintaiku atau tidak. Tapi lambat laun, aku menyadari bahwa aku... juga mencintaimu.”
Sumpah. Aku benar-benar muak.
Tanpa kendali tanganku dengan keras menampar wajah Inggar. Napasku terengah-engah seperti orang berlari. Tapi aku masih diam dan menatapnya sinis. “Beraninya kau bilang begitu di hadapan Reyana.”
“Li, kamu membuatku nyaman, aku bahagia di dekatmu. Tapi...” sambung Inggar.
“–tapi kamu masih mencintai Reyana dan berhutang janji pada Reyna, untuk setia padanya seumur hidupmu,” celetukku. “Bagaimana mungkin di hatimu ada dua wanita sekaligus, jika kamu bukan lelaki br**gsek.”.
Reyana memelototiku. Aku paham, mungkin dalam batinnya ia bertanya-tanya mengapa aku tahu mereka pernah berjanji akan salalu setia selamanya.
“Maaf, aku membaca semua pesan Inggar di Hp-mu,” jawabku.
“Lian...,” lirih Reyana.
“Terus, apa arti aku sekarang bagi kalian?” aku menatap wajah mereka satu persatu. “Boneka mainan?” dan mereka hanya diam. “Terus, apa yang bisa aku lakukan untuk membuat kalian bahagia?” tanyaku penuh kekesalan. “Hilang atau Lupa?”
Mereka celingukan seperti orang kebingungan.
Sebagian mereka mungkin merasa kasihan padaku. Dan sebagian yang lain merasa bersalah padaku. Aku sendiri merasa ingin mati.
Harus diingat. Aku adalah orang baru dihidup mereka. Dan mereka sudah lama saling mengenal dan saling cinta selama itu. Selama yang tidak pernah ku ketahui. Selama yang tidak pernah aku dapati.
Dan yang belum lama aku tahu tentang mereka adalah pernikahan mereka yang hampir kandas atas dasar ketidaksetiaan dan kecemburuan.

-fin-
Well, semuanya mengalir. Maaf untuk ketidaksengajaan pernah jatuh hati pada orang yang telah kamu miliki.
Adbox