Gadis Jawa: Di Sumatera Perlu Mengubah 'Logat'mu



Assalamu’alaikum, Reader...
Selamat pagi dan selamat beraktifitas.
Pagi ini aku mau share sama kalian tentang pengalamanku berkomunikasi atau berbicara selama di Padang yang mayoritas bersuku asli Minangkabau. Jadi, selama kuliah di Padang aku sering banget, SERING BANGET ditertawakan ketika aku lagi ngomong. Aku yang nggak sadar mengapa mereka nertawain aku pas aku lagi ngomong ya bertanya-tanya dalam batin, “Ni orang kenapa, sih? Ada yang salah ya omonganku?”.
Photo Ulfa dan Furi




Pertanyaan itu terus tergiang-ngiang di telingaku sampai ada salah satu temanku (asli Minangkabau) yang ngasih tau aku kalau aku ngomongnya terlalu medok. Iya, medok jawa. Medok itu bukan sejenis makanan yaaa (eh, itu keredok ya. hehe)... tapi medok itu aksen daerah yang kental sekali dan kentara banget Jawanya. Tau lah ya kalau orang Jawa udah ngomong pasti kentara banget logat dan aksen kejawennya. Nah, itu sama hal nya denganku. Pas di kampung halaman, sih, itu bukan masalah karena mayoritas memang berbahasa jawa medok. Tapi kalau di aplikasikan di luar zona, itu BERBAHAYA.


Bukan apa-apa, sih, hanya saja kalau kita ngomong atau berbicara menggunakan aksen Jawa kental sering ditertawain (note: tertawa bukan ngejek, tapi karena asing di dengar) kan jadi nggak nyaman komunikasinya. Kayak aku. Hehe.
Jadi, waktu itu aku pernah puasa untuk bicara. Biar nggak di ketawain gituuu, karena pada waktu itu susah sekali mengubah gaya bicara/aksen Jawa ke aksen normal. Ciaaah ... normal, emang orang beraksen Jawa nggak normal? Ya normal, sih. Tapi kalo letaknya diluar zona Jawa mungkin itu terdengar lucu yang akhirmya kita jadi sorotan. haha. (Pengalaman bangeetz yaak).

Jadi, nggak lama setelah puasa bicara, aku meminta kepada teman-temanku yang mayoritas orang Sumatera, seperti Medan, Aceh, dan Padang khususnya, untuk ngajarin aku bicara dengan melupakan aksen Jawa (pada saat itu). Berikut ini adalah tutorial ngubah aksen jawa ke aksen normal. Hahaha....
1.        Pertama, mulai dari mengeja huruf. Huruf yang sangat rawan sekali untuk keseleo ke lubang berbahaya seperti huruf berikut : B, D, G, H, J.
Di huruf-huruf itu ada sebuah penekanan, sehingga menyebabkan huruf yang keluar menjadi sedikit berbeda. Menjadi lebih tebal dari pelafalan huruf asli.
Jadi, waktu itu aku belajar huruf-huruf itu menjadi standar Nasional, hehe. Itu susah sekali bagiku yang sudah hampir 20 tahun mengganyang bahasa Jawa.
2.        Kedua, aku mulai mengaktifkan untuk berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Meskipun kalau di lingkungan Padang penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari akan di pandang sebagai orang Kota. Haha... dalam kasusku ini tidak berlaku, toh, aku masih saja orang kampung dengan aksen bahasa Jawa. Tapi, terus mencoba nggak ada salahnya.
3.        Ketiga, karena kebanyakan teman-temanku di Padang adalah orang dari Sumatera, khusunya Medan (yang bahasanya kontras sekali dengan bahasaku yang lembut dan pelan), bahasa mereka yang cenderung tegas, lugas dan keras perlahan mulai memengaruhi aksen bicaraku, sedikit demi sedikit aksen Jawa mulai luntur. Yah, setidaknya itu memudahkanku. Walau tanpa disadari aksenku malah ngikut mereka. Hahaha...
4.        Untuk meminimalisir orang kota dan orang kampung di Minangkabau, setelah melakukan 3 hal diatas, aku mulai fokus belajar bahasa Minang (sebelumnya juga sudah belajar). Agar aku bisa berbaur dengan masyarakat tanpa pandang saya dari mana dan bersuku apa. Mungkin kesulitanku belajar bahasa Minang adalah cara bicaranya yang terlalu cepat menurutku, jadi ketika orang lain berbicara padaku menggunakan bahasa Minang maka aku tetap akan lamban dalam mencerna arti dan makna. Tapi itu tidak menyurutkanku untuk terus belajar mendengar. Terutama mendengar curhatan temanku dengan bahasa Minang. Hahaha.

Jadi, inti dari komunikas adalah bagaimana kita dapat menerima pesan yang disampaikan orang lain dan mengerti arti serta makna. Selebihnya tergantung pada preferensi dan kenyamanan.

Setelah tiga setengah tahun aku kuliah di Padang, aku kini berhasil mengatur aksen bicaraku ketika berkomunikasi demi kenyamanan. Ketik berbicara kepada orang lain dengan beda suku, maka aku akan gunakan bahasa Indonesia. Tapi ketika aku berkomunikasi dengan yang sesuku, maka aku pun masih bisa beraksen kental Jawa.
Singkat cerita, pas aku pulang kampung, teman-temanku, saudaraku, tetanggaku, semua mengatakan bahwa aku sudah beraksen Padang. Itu hanya untuk orang yang sudah mengenalku.
Tapi pas dijalan dan ketemu sama orang lain dan nggak sengaja kita saling bicara, maka mereka akan bertanya, “Mbak dari Medan ya?”.
Uhuk! Uhuk!
Sekian.
Adbox