Bertahan di Perantauan

Photo By  minangkabaunews.com

Assalamu'alaikum...
Reader, sebagai seorang stalker aku jauh lebih pendiam dari kelihatannya. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa aku orang yang ambivert, yeah, dominan ekstrovert, sih. Ini... hanya info saja yah.


Jadi, aku suka sekali dengan sebuah perjalanan. Termasuk dalam perjalanan hidup. apaan, sih aku? ngomongnya udah perjalanan hidup aja, emangnya hidupku udah lempeng apa? 
Duh, ya belum sih, Tapi disini aku cuma ingin berbagi pengalaman aja. Mana tahu bisa jadi pembelajaran bagai reader dan menginspirasi gituuuh. hehe.

Oke langsung aja. Ini hanya cerita pengalamanku selama merantau di Kota Padang, Sumatera Barat.

Mulai dari bulan Agustus 2013 lalu hingga bulan November 2016 kemarin aku mengabiskan waktu untuk menjejaki pengalaman hidup di Kota Malin Kundang ini. Kota yang terkenal dengan religinya dan kota para pedagang.

Selama tiga tahun lebih aku merantau di Kota ini. Sendiri---maksudku, sendiri tanpa ibu, tanpa bapak, tanpa kakak, nggak ada sanank saudara. Pokoknya sendiri. ini adalah hal yang sebelumya tidak pernah terbayangkan sama sekali dalam pikiranku. Karena awalnya aku hanya ingin merantau di tanah Jawa, tanah asal sukuku.

Dimulai dari sinilah aku lebih Open Minded dengan dunia luar. Satu hal yang luar biasa yang Allah berikan kepadaku. Ditambah lagi, aku mendapat beasiswa dari Pemerintah free kuliah. dan ini keajaiban bagiku. aku juga tidak pernah membayangkan kalau tidak mendapat beasiswa ini maka aku akan berhenti kuliah.

Jadi ceritanya saya merantau ke Padang hanyalah utuk mencari ilmu. Jarak Padang dengan rumahku cukup memakan waktu dua hari dua malam dengan naik bus. Ongkosnya lumayan juga, sih, sekitar 300 - 450 ribu rupiah.

Hal pertama yang aku lakukan di Padang adalah mencari teman. Bermodal keramahan, pemahaman dan rasa empaty aku mulai mendapat apa yang aku inginkan. Bahkan lebih dari teman. Eh, Sahabat maksudnya. hehe.

Awalnya, sih  aku ngekost di salah satu kost milik kakak tingkatku yang sama-sama satu daerah. disana aku hanya tinggal satu bulan dan mencari kontrakan yang harganya lebih murah dari harga kost disana. Yaah, lumayanlah kalau bisa irit kan. Kalau masalah tempat tinggal mah jangan ditanya, selama tiga tahun lebih aku di PAdang hampi lima kali aku pindah-pindah. alasanya sih karena harga dan kenyamanan. Maklumlah, waktu itu aku memang serba kekurangan dan dalam diriku aku tanamkan untuk tidak meminta sepeserpun uang dari Orangtua. Lagian kalau minta juga malah repotin mereka, Harus hutang sana-sini. Aduuuh,,, ken kesian.
Iya, jadi meskipun mendapat beasiswa full tapi bagiku masih tidak cukup untuk pemenuhan sehari-hari. sebenernya cukup sih kalau diirit-irit, tapi kan ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi, kayak bedak, sabun mandi, pulsa dan kuota data, pakaian, dan lain-lain. Ribeeet yaah...
Jadi, meskipun banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, aku tidak pernah meminta kiriman kepada orangtua. Hal ini yang mendorongku untuk menghutang saja kepada dosen ataupun teman.

Iya, Dosen. kamu nggak percaya?
ini lagi, satu keajaiban yang Allah berikan kepadaku, yaitu dipertemukan dengan dosen-dosen yang baik dan luar biasa. Satu kesyukuran sendiri bagiku. Bener ya pepatah bilang, kalau kita merantau, meninggalkan kampung halaman, orangtua, saudara, teman-teman maka kita akan diberi yang serupa pula di perantauan. Dan ini aku rasakan sejak aku merantau.

Oke, jadi ceritanya waktu itu aku hutang sama salah satu doen karena aungku kurang untuk bayar kontrakan. nggak hanya aku sih, tapi beberapa temn aku juga menghutang dengan janji beberapa bulan harus lunas. fine,,, dalam 5 bulan hutangku lunas.

sebenernya masih panjang ceritanya, tapi karena waktu, aku cut sampai sini dulu ya. besok aku lanjutkan lagi. oke.





Adbox