ORIGINAL FICTION: Remember Autumn


Jadi, ini chellenge buat cerpen fiksi ketiga yang kubuat dengan tema romantisme Korea. hehe... masih jauh dari baik, sih. tapi buat ajang belajar dan asah-asah nulis juga nggak apa-apa, kan?! semoga menghibur ya. :) :)  (bisa juga mengunjungi furirain.wordpress.com)

-------------------------------------------------------------------------
REMEMBER AUTUMN
 
Photo by Google
 
“Bahkan rencana-rencana melupakan masa lalu pun gagal di tengah jalan.”

Winna melingkarkan jemarinya pada cangkir putih berisi hot chocolate untuk menghilangkan dingin yang terbawa sejak ia masuk ke Kona Beans. Sesekali ia hirup kepulan asapnya untuk menghangatkan rongga hidung yang sejak 15 menit tadi dipenuhi udara dingin. Di pagi hari suhu bisa mencapai angka belasan derajat celcius. Ini tidak sedingin saat winter tiba.



Lalu menempelkan kedua telapak tanganya yang hangat akibat konduksi  ke pipi pucat dingin. Padahal kafe sudah dilengkapi dengan penghangat ruang. Ia menepuk-nepuk pipinya untuk memberi efek merah alami. Tapi tidak memberi banyak pengaruh saat ia melihat wajahnya melalui kamera i-phone miliknya. Ia mulai sebal dan merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi. Menghela nafas panjang. Memandangi kursi kosong didepanya. Membayangkan seseorang duduk disana lalu memerhatikan pipinya yang pucat lantaran nervous yang belum bisa ia kendalikan.
Aiish. Eotteoke.
Winna melirik empat digit angka pada layar i-phonenya. Harusnya dia sudah datang, batinya. Ia kembali menarik tubuhnya dari sandaran. Mengambil nafas lalu buang; begitu sampai ia merasa rileks. Kemudian menyeruput hot chocolate yang ia yakini dapat mengurangi stress. Kini lebih tenang. Entah siapa yang ia tunggu sampai ia harus melewatkan liburan akhir pekan bersama teman-teman kampusnya yang kabarnya akan mengunjungi Andong Maskdance Festival. Sebuah festival seni traditional Korea yang digelar saat musim gugur tiba.
.
Winna melatih senyumnya. Membenarkan duduk, lalu merapikan rambut hitamnya yang sempat acak-acakan karena tiupan angin.
Winna.
Samar-samar. Panggil seseorang dari arah belakang yang ia yakini suara seorang lelaki yang sudah 20 menit lalu ia tunggu. Suara yang khas, pikirnya. Winna masih kaku memutar badan untuk sekedar memastikan pemilik suara itu.
“Hai, Winna–” sapanya.
Kini berada didepan Winna; mengeluarkan tangan dari saku jaket hitam lalu mengulurkanya didepan gadis yang sudah menyiapkan senyum terbaiknya. This is the first meeting in the autumn.
“Ha...ha...hai, Krisan,” balas Winna agak gugup.
“Sudah lama menunggu, ya?” tanyanya sembari mengambil alih kursi kosong yang dingin dihadapan Winna–tanpa permisi. Seperti biasa.
“Belum kok.” Sambil menggelengkan kepalanya spontan.
“Saya tidak tahu kalau musim gugur di Korea akan sedingin ini,” ujar lelaki itu sembari menggosokan kedua tanganya.
“Oh, kalau pagi dan sore memang selalu dingin pada musim gugur. Kalau siang mungkin suhunya masih bersahabat dengan tubuh orang beriklim tropis,” jelas Winna.
Krisan mengangguk, merapatkan kembali jas kremnya. Tersenyum pada gadis didepanya.
“Oh ya, mau pesen apa?” tawar Winna.
“Eeee.”
“Coffe Mocha,” Winna kembali buka mulut sebelum sempat Krisan jawab. Mereka berpandangan. Lalu tertawa kecil.
“Kamu masih ingat?” tanya lelaki itu, keheranan.
“Iyalah. Aku masih ingat. Kita kan dulu–” kalimat gadis berlesung pipi itu terpotong mendapati dirinya terjebak nostalgia.
Krisan mendekatkan tubuhnya ke meja dan melipat tangan lalu mengangkat kedua alis tebalnya dihadapan gadis yang kini pipinya memerah.
“Apa? Kita dulu apa?” tanya Krisan penasaran. Setengahnya lagi meledek.
Winna gelagapan; menyadari dirinya salah omong. Biasanya Winna akan tersipu jika Krisan sudah memberikan tatapan seperti itu. Seperti itu. Dan, ah, sudahlah. Krisan ada-ada saja.
“Oke. Lupakan! Biar aku pesankan ya,” kata Winna dengan mengibaskan tangan kirinya di udara, tak ingin meneruskan ledekan Krisan. Tapi percayalah; hanya mereka berdua yang tahu.
Winna bangkit lalu memesan Coffe Mocha untuk Krisan. Sesekali Winna melirik punggung lelaki yang kini tengah bersandar di kursi; demi melihat perubahan tiap inci lelaki yang pernah singgah di hatinya itu. Tidak banyak perubahan, atau hampir tidak ada kecuali kumis tipis yang tumbuh di atas  bibir sehingga menambah efek manis pada wajah tampanya. Winna tersenyum sendiri. Entahlah. Disebut apa mereka sekarang.
Kona Beans memutar backsound Say You Won’t Let Go milik penyanyi James Arthur. Sebagai latar kafe dan menambah romance moment dipertengahan september ini. Musim gugur memang identik dengan nuansa romantis. Jadi tidak jarang sepasang kekasih menghabiskan waktu libur akhir pekan dimusim gugur dengan berjalan-jalan sekedar menikmati indahnya pemandangan alam yang menguning diselingi udara yang hangat. Indah.
.
“Ini.” Winna meletakan secangkir coffe mocha panas kesukaan Krisan. Krisan tersenyum dan berterimakasih. Winna kembali duduk.
“Gimana dengan pekerjaan kamu? Lancar? Aku dengar kamu udah naik jabatan.”
“Lancar.”
“Kamu masih suka fotografi? Aku lihat di instagram, hasilnya bagus.”
“Masih.”
“Mau berapa hari liburan disini? Ada banyak tempat bagus buat jadi objek fotomu loh.”
“Satu minggu.”
Lah. Winna mulai kesal, ia mendengus, mengencangkan rahangnya. Lelaki itu masih saja dingin. Padahal kopinya sudah habis setengah.
“Gimana kabar Mama dan Papamu?” tanya Winna sekali lagi. Kalau pertanyaan ini masih saja dijawab apa adanya maka ia putuskan untuk pergi, batinya.
“Ehm, mereka baik-baik saja,” jawab Krisan setelah menyeruput coffe mocha.
“Oh ya, mereka titip ini buat kamu, Win.” Krisan menyodorkan kotak hitam dengan pita pink di sudut kanannya. Winna sudah bisa menebak isi didalamnya. Ini adalah hadiah yang sering orang tua Krisan berikan padanya; mengetahui Winna sangat menyukai coklat. Wajah Winna sumeringah memikirkan orang tua Krisan yang sama sekali tidak berubah sejak dua tahun lalu. Selalu memberinya coklat. Entah dalam rangka apa.
“Mama juga titip salam buat kamu–”
“Katanya, kamu harus jaga kesehatan, makan yang teratur, jangan suka begadang, kalau masak nasi airnya harus sebanding dengan berasnya, kalau makan apel jangan lupa dikupas kulitnya, jangan terlalu sering makan-makanan kaleng, jangan meniup makanan dan bla... bla...bla,” lanjut Krisan mempraktikan gaya mamanya berbicara dengan menjentikan jari.
Winna tertawa lepas melihat ekspresi lucu Krisan menirukan gaya mamanya berbicara. Yang sesungguhnya jauh dari kemiripan. Pun demikian pada Krisan; menertawai dirinya sendiri yang konyol dalam bercanda.
Dalam hal bercanda Krisan adalah yang terkonyol di dunia. Tapi entah mengapa Winna selalu bahagia di dekatnya. Walaupun kadang sifat dinginya kerap muncul dalam perbincangan mereka. Tak penting bagi Krisan candaan itu lucu atau tidak, yang dia inginkan hanyalah melihat Winna tersenyum bahagia. Itu saja.
“Jadi setelah ini kita kemana?” tanya Krisan menghabiskan sisa tawanya.
Bola mata gadis itu berputar. Pikirnya berkelana. Ehmmm.
“Aku akan menyewamu menjadi tour guide ku selama aku berlibur disini. OK!” pernyataan Krisan ia biarkan menggantunng di udara. Winna menyeruput hot chocolate yang tidak panas lagi.
“Hidung kamu makin mancung ya, Win.” Winna berhenti menyeruput hot chocolate mengetahui Krisan memerhatikan detail wajahnya. Dahinya berkerut.
“Apa jangan-jangan kamuuuu–” Krisan menyipitkan kedua matanya tanda interogasi.
“Apa?! Enggak! Ini asli ya. Nih nih, emang aku dari dulu mancung kali. Kamu yang pesek,” balas Winna mengetahui maksud dari pertanyaan Krisan, sambil menunjukan hidung yang diduga Krisan hasil oplas. Yang akhirnya memecah tawa diantara keduanya. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa dua tahun lalu.
Dan mereka melepas rindu dengan secangkir minuman hangat yang dibubuhi perbincangan menarik pengalaman Winna semasa kuliah di Yonsei University, Seoul, Korea Selatan. Krisan dengan seksama mendengarkan bagaimana bibir mungil itu mengeluarkan berbagai huruf. Sesekali Krisan mengangguk dan tertawa ringan. Mata coklat Krisan senang menangkap lesung pipit yang kadang terbentuk di kedua pipi gadis bermata bulat itu. Sesekali Krisan mengusap kepala Winna dengan manja seperti saat mereka menjadi sepasang kekasih dua tahun lalu.
.
Suhu udara semakin hangat. Langit cerah membiru. Sepanjang hamparan jalan berserak dedaunan berbentuk bintang–terkadang tertiup angin hangat dan menampar lembut wajah oriental Winna saat jalan bersisian dengan Krisan. Krisan menggandeng erat tangan Winna laiknya sepasang kekasih disepanjang Samcheongdong-gil demi melihat indahnya daun pohon gingko dan daun pohon maple yang berguguran. Musim gugur dipertengahan september ini menggelar banyak kisah romantis antara sepasang kekasih.
“Winna, kamu ingat Popo?” tanya Krisan sambil mengayunkan genggaman tangan mereka.
“Anjing kecilmu,” jawab Winna, menoleh ke lelaki yang sejengkal lebih tinggi darinya.
“Iya. Sekarang dia sudah besar dan sudah punya istri. Bahkan mereka sudah punya 3 anak.”
“Wah, aku ingin melihat betapa lucunya anak anjingmu,” ujar Winna menyandarkan kepalanya dibahu Krisan. Lalu memerhatikan langkah keduanya beriringan.
Krisan menghentikan langkah tepat dibawah pohon maple. Winna ikut berhenti dan menarik kepalanya dari sandaran.
“Ada apa?” tanya gadis itu setelah mendapati tangan Krisan menyentuh rambut sebahunya.
“Ada daun maple jatuh di kepalamu,” kata Krisan.
Krisan kemudian berpindah ke pohon gingko yang berseberangan dengan pohon maple, dan mengambil daun gingko kuning berbentuk kipas dari atas rumput lalu membawanya beserta daun maple merah dari atas kepala gadis itu.
“Coba katakan sesuatu!” Krisan menghadapakan daun maple merah seolah menyuruh Winna untuk berbicara pada sehelai daun. Winna menyatukan alisnya, keheranan dengan ulah Krisan. Tapi manut megikuti instruksi lelaki berkumis tipis itu.
“Krisan Jelek!”
Ck. Krisan tertawa kecil. Lagi-lagi Krisan mengacak-ngacak rambut Winna dengan manja. Winna memberengut seperti anak kecil.
“Winna Cantik!”
Krisan melakukan hal yang sama dengan sehelai daun gingko kuning.
“Kamu aneh. Bicara sama daun kering gitu,” ujar Winna sembari mengantongi kedua tanganya pada saku mantel pink salemnya.
“Bukankah daun juga bisa mendengar? Apalagi denger suara cewek cerewet kayak kamu,” ledek Krisan, membungkukan badanya demi menyejajarkan matanya pada mata Winna.
Refleks membuat Winna mencubit perut Krisan. Saaaaangat kecil, lalu memelintirnya. Krisan menggeliat kesakitan. Mengaduh, kemudian meminta ampun. Winna melepas cubitanya dengan terpaksa. Winna menyunggingkan bibirnya kesudut kanan atas–sinis.
“Salah sendiri.”
Krisan hanya bisa mengaduh melihat gadis yang dulu sebagai kekasihnya memberi pelajaran atas ledekanya. Aih. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu dua tahun lalu.
Krisan kembali tegak. Keduanya berhadapan; saling beradu pandang. Untuk beberapa detik hanya kebisuan yang menguasai mereka.
Tangan Krisan meraih tangan kanan Winna lalu memerhatikanya lamat. Membaliknya lalu memberikan daun pohon gingko kuning di atas tangan lembut Winna. Winna masih terdiam.
“Simpan ini,” kata Krisan kemudian menelangkupkan tangan Winna.
“Aku juga akan menyimpan ini,” lanjutnya, dengan mengangkat daun pohon maple merah dihadapan Winna.
“Sebagai tanda bahwa kita pernah melalui musim gugur bersama.”
Remember Autumn.
Dan mereka seperti sepasang kekasih. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu dua tahun lalu.
.
Perjalanan mereka lanjutkan ke arah pantai barat daerah Chungcheong Selatan untuk menyaksikan festival bunga krisan bermekaran. Di sini mereka dapat menemukan lebih dari 1.000 bunga krisan yang sedang mekar. Atau sekedar mencicipi makanan dan teh yang terbuat dari bunga krisan.
Hal ini yang sangat ingin Krisan lakukan; adalah melihat bagaimana namanya diambil dari nama bunga yang terkenal saat musim gugur ini. Konon, bunga krisan ini memiliki makna bahwa apapun perbedaan yang ada, jika memang hatinya telah terpaut dalam sebuah persahabatan, maka selamanya akan tetap bersatu. Atau lebih singkatnya lambang  persahabatan sejati.
Krisan memetik setangkai krisan merah; perlambang cinta, untuk diberikan pada Winna. Winna hanya tersipu mendapati sorot mata Krisan dan berbalik membelakanginya. Krisan berpindah secepat kilat di depan Winna yang masih tersipu demi melihat lesung pada kedua pipi merah Winna. Bunga krisan merah. Ah.
Puas melihat-lihat bunga krisan mekar, mereka kembali ke Seoul. Hingga berakhir di Namsan Seoul Tower. Namsan Tower merupakan menara tertinggi di Seoul yang berada digunung Namsan. Saat memasuki halaman Namsan Tower, mereka disambut dengan pagar yang dipenuh oleh Love Lock atau gembok cinta.
Katanya, jika sepasang kekasih memasang gembok cinta itu pada pagar maka cinta mereka akan abadi. Winna tidak begitu percaya. Tapi Krisan memaksanya untuk mencoba. Apa boleh buat. Meskipun mereka tidak lagi berstatus sepasang kekasih. Tentu saja hanya untuk sekedar bermain-main. Krisan tidak begitu serius dengan hal itu. Tapi melakukannya juga tidak apa-apa kan. Pikirnya.
Mereka mengukir nama pada Love Lock berwarna merah, ditengahnya bergambar hati berwarna putih. KRISAN & WINNA. Lalu menggemboknya pada pagar. Tentu saja pagar itu sudah ramai dengan gembok-gembok pasangan kekasih lainya. Ah, hubungan macam apa ini. Bukan sepasang kekasih tapi berani menggantungkan nama mereka pada Love Lock. Mereka cuek. Lalu menguncinya dan meletakan kunci pada sebuah kotak merah yang menjadi tempat penampungan semua kunci-kunci dari gembok yang tergantung.
.
Tanpa terasa, hari mulai larut. Suhu dingin mulai menyelimuti jalanan di Namsan Seoul Tower. Asap keluar dari setiap hembusan nafas Krisan. Ini lebih dingin dari saat mereka bertemu di Kona Beans pagi tadi. Yang paling tidak tahan dingin adalah Winna. Ia tidak mengira akan bersama Krisan sampai malam, jadi ia tidak membawa aksesoris suhu dingin seperti syal, penutup kepala, dan sarung tangan. Hanya tanganya yang ia lindungi dengan memasukan kedalam saku mantel pinknya. Sesekali mengusap hidungnya yang mulai berair.
Krisan menarik lengan Winna untuk melanjutkan perjalanan. Seolah Krisan lebih mengetahui jalan ketimbang Winna. Dan berhenti untuk membeli lentera yang biasa digunakan untuk festival lentera dimusim gugur. Krisan membelinya satu. Dan mereka berhenti pada sebuah jembatan merah diatas sungai yang tenang. Dan menulis harapan-harapan mereka pada lentera.
“Apa harapanmu?” tanya Krisan.
“Mau tau aja. Huh,” jawab ketus, lalu membelakangi Krisan.
“Pasti kamu ingin aku gak pulang ke Indonesia kan?!”
“Yeeee... GRRRR.”
Sekarang giliran Krisan untuk menuliskan harapan pada lentera yang sama. Winna memanjangkan leher demi melihat harapan yang ditulis oleh Krisan dibalik tulisanya.
“Jangan ngintip ya,” himbau lelaki yang sedikit membungkuk itu mengetahui trik Winna.
“Pasti kamu ingin aku cepet balik ke Indonesia kan!”
“Iya.”
“Eh–”
“Ok, selesai.”
Krisan menyalakan lentera yang berada ditengah mereka. Lentera mengembang, masih dalam pegangan tangan Krisan dan Winna–siap diterbangkan. Winna dan Krisan saling beradu pandang. Dalam benak mereka memutar memori yang sama–dua tahu silam. Satu-satunya penyebab yang mengharuskan mereka berpisah dan memilih mencintai lebih dari sekedar teman dan kurang dari sekedar kekasih. Atau parahnya jika mereka memang tidak ditakdirkan bersama lagi mereka akan saling melupakan.
Mata Winna mulai berkaca akibat kelebatan masa lalu. Krisan tersenyum menguatkan.
“Biarkan aku mencintaimu dengan cara yang lain. Walaupun aku tak pernah menemukan cara lain selain mencintaimu lagi, Winna.”
Hana. Dul. Set.
Dan lentera itu perlahan melayang diudara membawa harapan-harapan Winna dan Krisan. Dari kejauhan mereka saling melihat harapan satu sama lain.
AKU INGIN SELALU BERSAMAMU.
Begitu harapan mereka yang tanpa disepakati bersama. Mereka tersenyum.
.
Kembali menyusuri jalanan di Namsan Tower yang semakin mendingin. Tidak banyak yang mereka perbincangkan. Keduanya saling merasakan bahwa rasa ini masih utuh. Bahkan rencana-rencana melupakan masa lalu pun gagal di tengah jalan.
Langkah Winna mulai melambat, nafasnya mulai terengah. Menyadari bahwa gadis itu kelelahan; Krisan mengambil posisi jongkong didepan Winna. Winna mendelik kaget.
“Naiklah,” tawar Krisan menepuk punggung nya.
“Ah, tidak. Aku tidak apa-apa. Aku masih bisa jalan kok.”
“Sudahlah. Jangan memaksakan diri.”
“Aku berat.”
“Aku kuat.”
“Dasar keras kepala,” ujar Winna jengkel.
“Ok, kalau kamu tidak mau naik aku akan terus seperti ini,” ancam Krisan.
Aih, kepalanya masih saja tak melunak sejak dua tahun lalu. Ancamnya sama sekali tidak memberikan pilihan lain bagi Winna selain mengikuti perintah lelaki yang terlewat keras kepala itu.
Winna mengalungkan lenganya ke leher Krisan, dan menyandarkan kepalanya dibahu yang selalu membuatnya nyaman itu. Sesekali Winna berceloteh tentang dirinya yang selalu payah membuka tutup botol minuman soda yang dulu menjadi pekerjaan Krisan saat Winna menginginkanya. Krisan tersenyum tipis dan berjalan lambat.
Sampai mereka bertemu sebuah bangku kayu yang kedinginan menghadap tower Namsan. Barangkali sejenak menunggu kembang api menghias angkasa. Atau menunggu kecoa menertawakan hubungan tak jelas mereka. Atau, ah, sudahlah.
Mereka duduk berdampingan. Krisan mengalungkan syal yang ia simpan keleher Winna ketika mendapati Winna menggigil. Gadis itu kini menyandarkan kepalanya di bahu lebar Krisan dan memejamkan mata. Krisan mengeluarkan i-phonenya lalu memasang headset dan memutar lagu kesukaan mereka dua tahun silam. Memasangkan satu ditelinga Winna.
Diantara beribu bintang, hanya kaulah yang aku sayang
Cuma kamu dan hanya kamu, yang selalu ada untukku.
“Disebut apa kita sekarang ini?” pertanyaan Krisan disertai senyum tipis.
“Mantan,” jawab Winna masih memejamkan matanya, “Hah, mantan macam apa kita ini,” lanjutnya.
“Aku ingin kita seperti dulu lagi,” kata Krisan sembari menyandarkan kepalanya dikepala Winna. Krisan melanjutkan lagi,
“Ketika malam aku selalu memutar lagu ini. Mengingatmu, mengingat kebersamaan kita dulu, mengingat bagaimana kamu menyebut namaku, mengingat bagaimana kita merencanakan hidup bersama kelak, mengingat bagaimana kamu manyun saat aku menceritakan tentang Yoona, padahal dia sepupuku,” Krisan tertawa lirih.
“Mengingatmu saat kamu bermain gitar dan bernyanyi untuku, mengingat saat kamu keras kepala tidak mau pakai sepatu saat lari sampai akhirnya kakimu terkena pecahan kaca, mengingatmu memberikan bunga untukku, padahal bunganya udah layu,” Winna melanjutkan.
Tertawa sekedarnya.
“Adakah cara untuk kita bisa kembali seperti dulu?” kalimat Krisan berakhir pada sebuah pertanyaan yang sudah tentu mereka tahu jawabanya.
Winna menarik kepalanya dari sandaran. Lalu menatap Krisan serius.
“Ada,” kata Winna.
Krisan mengangkat alis, “Apa?”
“Jika kita memiliki satu keyakinan.”

-fin-

Sambil duduk, nginget mantan gak apa-apa lah ya. Just for fun. And thank you for my best only ‘mantan’. Sometime, you can be the my inspiration.
Karena hubungan tidak harus berakir kandas. Ciiaaahhh...
Adbox