ORIGINAL FICTION: Black Blood

Guys, kayaknya aku bakalan usung-usung buat pindah rumah, nih. hehe...
Iya... kemarin aku masih pakai blog gratisan milik wordpress untuk ngepost cerpen-cerpen yang aku tulis. Tapi sekarang udah punya domain sendiri jadi maaf ya kalau repot harus pindahin karyanya ke blog ini. hehe...
Kalau yang ini adalah cerpen fiksi challenge aku yang kedua. agak mainstream, sih. tapi coba ambil hikmahnya aja ya guys.


BLACK BLOOD
Photo by Google

Dan kami berbincang tentang semua kesamaan-kesamaan yang kami miliki. Seperti hobi, makanan, musik dan kesamaan-kesamaan lainnya yang membuat kami nyaman.

Malam itu, kali pertama aku jatuh hati pada Han. Memeluk gitar, sembari memetik enam baris senar dan memadukan nada. C; G; Am; G; C; G kemudian Am. Bola mataku hampir tak bisa lepas dari jemari lentiknya. Nada yang indah untuk membuai runguku saat itu.

Pada detik Han mengalihkan pandang lembut tepat ke arahku, netraku tertarik untuk balik menatap bola mata coklat milik seseorang berperawakan jangkung itu. Disusul dengan sesungging senyum yang menghiasi pipi tirusnya. Sungguh, tatapan dan senyuman yang serasi untuk membuatku terpesona.
Kupukul kepalaku agar segera sadar dari pesona yang jujur saja pernah menjeratku beberapa kali. Jika dapat kuhitung–mungkin ini yang kesepuluh setelah empat bulan aku bekerja menjadi waitter di kafe Black Blood.


Kupukul kepalaku yang tak bersalah. Menyadarkan bahwa aku adalah wanita kesekian yang mendapat tatapan seperti itu. Sekali lagi.
“Aarrrghhh...”
In my dreams. Your with me
We’ll be everything i want use to be
In from there. Who knows? Maybe this will be the night that we kiss
for the first time or is that just me in my imagination.

Tetiba aku larut dalam lirik lagu yang ia nyanyikan. Usaha untuk membuyarkan pesonanya memanglah bukan pekerjaan yang mudah. Kurasa. Suaranya terlewat merdu untuk tak kudengarkan. Aku hanyut pada tatapan Han yang dari beberapa menit lalu linier ke arahku. Aku tak bisa menguasai diriku. Deg.
Imagination...
Imagination...
Imagination...
“Melisa!!!”
Deg.
“Lu ngeliatin apa sih?”
“Oh... e..e..enggak.” sambil mengaruk kepalaku yang tak gatal. “Enggak ngeliatin apa-apa kok, Bel.” berusaha senyum.
“Kursi nomor 15 udah pesen belum?” Bella menunjuk dengan dagunya. “Samperin gih kalau belum. Jangan ngelamun aja. Nggak baik tauk,” kata teman kerjaku yang masih membersihkan meja nomor 8. Kurasa dia memerhatikan gerak-gerikku yang terpaku pada panggung kafe dari tadi.
Aku mengangguk dan bergegas ke deretan kursi paling ujung. Persis di dekat dinding kaca, sehingga terlihat seluruh pemandangan di luar yang merinai. Tak lupa membawa pulpen dan catatan menu yang beralas nampan kayu kecil untuk ditawarkan pada sepasang kekasih yang terlewat mesra. Aku terpaksa mengganggunya barang sebentar. Anehnya, kemesrahan mereka sama sekali tak membuatku iri. Aku tidak bohong.
Pikirku masih seputar Han. Dia kekasihku. Sudah dua tahun Han tidak menjadi penyanyi di kafe Black Blood. Kabarnya sekarang menjadi penyanyi terkenal. Dan selama itu pula kami terpaksa LDR dan Backstreet. Miris.
Han pernah berjanji setelah dia sukses mengejar mimpinya yang ingin menjadi solois, ia akan segera kembali untuk menemuiku dan tidak akan menutup-nutupi hubungan yang kita jalani. Meskipun aku dan Han tahu akan banyak orang yang menentang bahkan  mencemooh hubungan kita. Termasuk orang tua kita. Mungkin karena aku tak pantas bersanding denganya. Kami seperti langit dan bumi. Han yang langit dan aku yang bumi.
Tapi, kami sungguhan menjadi sepasang kekasih sejak tanggal 11 Agustus lalu. Aku tidak boleh lupa tanggal itu. Kalau tidak – aku akan mati.
Ah. Entahlah.
Sampai saat ini aku masih menjadi waitter di kafe Black Bood lantaran menunggu Han. Dan aku akan menagih hutang janjinya. Aku harap Han tidak pernah lupa. Apalagi tanggal jadian kita. Jika lupa, aku akan mengingatkannya. Asal dia kembali. Padaku. Jika tidak, aku tidak akan mengizinkanya pergi setelah membuatku seperti ini. Aku akan menuntun balas jika itu terjadi.
Terkadang aku ingin normal senormal pasangan kekasih lainya. Yang di depanku ini misalnya.  Si wanita menggandeng mesra lengan si lelaki layaknya sepasang kekasih di film-film yang sering kami tonton dulu. Sesekali si lelaki menepuk-nepuk punggung tangan wanita yang ada digenggaman tangan kanannya. Mereka bertatapan. Mesra. Hanya untuk menanyakan minuman apa yang pas untuk sabtu malam ini. Aih, Anggap saja aku tidak melihatnya. Aku menghela nafas lirih agar mereka tak mendengar. Ah, itu normal saja sebagai sepasang kekasih, kan.
Wanita yang menyandarkan kepala dibahu lelakinya. Kini tegak.
“Pesen Espresso, samaaa–” jemari lentiknya mengurut deretan menu pada menu book.
“Coffe Latte, ya.” deg. Coffe Latte.
“Banyakin krimnya ya. Saya suka banyak krimnya,” kata wanita bergincu pink matte. Tangan kirinya masih belum lepas dari lingkaran lengan lelaki ber-jas hitam di sampingnya. Sangat serasi–batinku lirih.
Giliranku mengulangi, “Saya ulangi ya! Espresso satu. Cof...fe Lat...te dengan banyak krim satu. Mohon ditunggu sebentar ya.” Meski agak terbata. Setegar mungkin aku tersenyum. Demi kepuasan pelayanan kepada pelanggan, meski senyum ini getir terasa.
Aku berbalik badan.
“Tunggu!” suara besar lelakinya membuatku kembali memutar badan 360o.
“Iya, Tuan. Ada pesanan lagi?” tanyaku berusaha ramah.
“Tolong wine-nya ya!” perintah lelaki itu. Aku mengangguk pada lelaki berambut klimis itu. Wine. Ah.
Benar saja, aku salah fokus kali ini. Wanita bergincu pink matte itu.
Wanita itu, yang saat ini bergandeng mesra dengan lelakinya. Memiliki selera yang sama dengan Han, kekasihku. Coffe Latte dengan banyak krim. Biasanya Han yang membuatkan Coffe Latte untukku dan untuk dia sendiri lalu diminum bersama di meja kosong dekat dinding kaca dan kami saling berhadapan. Hal semacam itu sering kami lakukan seusai kafe tutup. Kira-kira jam 10 malam. Kami berbincang tentang semua kesamaan-kesamaan yang kami miliki. Seperti hobi, makanan, musik dan kesamaan-kesamaan lainnya yang membuat kami nyaman.
“Bukankah di dunia ini ada banyak sekali orang yang memiliki kesamaan selera. Ini bukan tentang kebetulan sama belaka. Terkadang kita menjadi dekat atas dasar kesamaan-kesamaan tersebut. Seperti aku dan kamu,” kata Han kemudian menyeruput kopinya. Aku  menendang genit kaki yang tersembunyi di balik meja. Han kaget dan hampir menyemburkan kopi dalam mulutnya. Aku tertawa kemudian kami cekikikan. Hangat.
Kami memiliki selera yang sama. Meskipun, sekarang Han jauh. Ku harap, seleranya masih sama sepertiku. Dia juga harus ingat, dulu kita pernah dekat sedekat nadi. Meski kini kita jauh sejauh matahari. Ah, kata-kata gombalan itu sering ia katakan padaku dulu.
“Melisa!” Teriak Bella.
“Eh,”
Tiba-tiba Bella sudah berdiri didepanku. Aku kaget. Nampan kecil berisi catatan menu jatuh, mengundang beberapa pasang mata. Aku gelagapan.
“Tuh kan, ngelamun aja. Fokus, Mel. Fokus!”
Aku melengos tak menghiraukan perintah fokusnya.
“Apaan sih, Bel? Tiba-tiba nongol kayak kuntilanak aja,” kataku ketus. Dia menyusul di belakangku, menuju bar untuk membuatkan pesanan meja nomor 15.
“Eh, Mel. Kamu udah tahu belum?” tanya Bella dengan penasaran.
“Apaan?”
“Jadi kamu beneran belum tahu, Mel?” ia mendekatkan kepalanya hingga 20 cm di depanku. Menyipitkan kedua matanya demi menelanjangi pikiranku.
Aku menarik kepalaku. Takut kalau Bella semakin mendekat. Aku mengangkat bahu dan mencibir, “Enggak tahu!”.
“Nih ya, aku kasih tahu biar kamu gak kudet.” Bella mengeluarkan Hp-nya dari kantong rok. Dan, “Jadi, karyawan di sini pada heboh ngomongin soal penyanyi kafe Black Blood dua tahun lalu, Mel. Masih inget gak? Aduuuh... siapa, sih?”
Deg. Penyanyi kafe 2 tahun lalu. Jantungku berdegup.
“Kabarnya, Mel, dia diundang sama bos untuk nyanyi sekaligus jumpa fans di kafe kita. Kata bos sih, ini juga untuk kepentingan bisnis. Biar kafe kita lebih lariiiiis.” bibir merah tebalnya menambah efek dramatis setiap kata yang muncul dari mulutnya.
“Sapa siich yang mau ketinggalan ketemu penyanyi terrrrrkenal? Haduu... duh...duh.” aku meninggalkan mimik wajahnya yang sudah kuduga lebay.
Untuk sepersekian detik aku merasakan aliran darahku mengalir deras. Memanas. Dia-kah yang ku tunggu? Aku diam seribu bahasa. Memusatkan fokus rungu pada suara gadis berambut pirang itu.
“Kayaknya sih minggu depan dia kesini. Wah,,, mesti siap-siap tenaga ekstra nih. Ck... beruntung banget ya dia, dua tahun keluar dari sini udah langsung terkenal. Iiihhhh... aku sih mau banget. Tapiii– ” cerocos Bella terpotong karena melihatku tanpa ekspresi. Harusnya aku antusias seperti biasanya.
“Mel!”
“Melisa! Kamu baik-baik aja kan?” Bella mengguncang-guncangkan bahuku. Aku tersadar.
“Bel...”
“Iya, Mel. Jangan buat aku takut deh! Horor bangets sih.” Bella manyun. “Aku salah omong ya?”.
Aku tersenyum. Jika kamu ada di depanku, mungkin kamu akan lihat mataku yang berkaca-kaca. Entah bahagia, entah apa. Bella saja menatapku aneh. Terlihat dari kerutan di dahinya yang semakin jelas.
Han akan kembali. Benarkah?
Entah dalam rangka apa dia kembali ke kafe yang mempertemukan kita ini – aku tetap saja bahagia. Tak lama lagi aku akan bertemu dengannya. Akan lunas semua rindu yang terhutang sejak tahun lalu tanpa temu tanpa secangkir kopi di meja yang biasa kita habiskan dalam semalam.
Aku sungguh tidak sabar ingin bertemu dengan Han. Bagaimana rupanya ia sekarang. Apakah ia rajin menyisir rambutnya. Apakah ia makan dengan teratur. Apakah kuku-kukunya masih cantik. Apakah permainan gitarnya masih semerdu dulu. Apakah dia makin jangkung? Ah, aku sungguh tidak sabar. Semaksimal mungkin aku mengontrol diri. Memperbaiki fisik kalau-kalau bertemu dengannya aku tidak cukup membuatnya malu memiliki kekasih sepertiku. Yang apa adanya.
Han sering berkomentar ini dan itu jika ada yang tidak cocok padaku. Terutama pada setelan yang aku kenakan. Kali ini aku akan membuatnya tidak bisa berkomentar lagi. Aku harus serapih mungkin. Tidak lupa, memotong rambutku. Pendek. Sependek petama kali kita bertemu. Kira-kira sepanjang 3 cm dari kulit kepala. Dengan model yang sama seperti dulu. Entahlah. Dulu dia senang mengelus rambutku dengan manja.
Di sabtu malam atau malam minggu –ah, dia suka mendebatku soal sabtu malam atau malam minggu – aku izin tidak bekerja, dengan resiko gajiku dipotong 5%. Tidak masalah bagiku. Han tetaplah yang paling spesial, lebih dari sekedar mata uang. Tujuanku di malam ini adalah menemui Han. Aku rasa Han juga memiliki misi yang sama sepertiku. Setelah ia tampil aku akan segera menyusulnya. Atau malah bernyanyi bersamanya menghibur penonton dan kami duet laiknya sepasang kekasih.
Ah, itu tidak mungkin. Aku kan ambil cuti hari ini, dengan alasan ada kepentingan mendesak. Tidak mungkin aku menunjukkan wajah polosku ini di depan bos dan para karyawan yang predikatnya sudah menjadi teman baik. Jujur saja, semua karyawan dilarang berlibur untuk malam ini, malah melembur. Tapi demi Han, dimarah bos pun aku rela. Bukankah begitu sebagai sepasang kekasih?
Benar saja. Malam ini kafe Black Blood menjadi sangat ramai. Lima kali lebih ramai dibanding biasanya. Aku melangkah masuk kafe. Riuh tepuk tangan penonton menyambut kedatangan Han. Tepat saat aku melangkah masuk pintu utama kafe yang otomatis terbuka. Kepalaku celingukkan mencari sosok Han. Tapi, aku masih belum melihat Han.
Dua buah foto Han besar-besar terpajang menjadi pagar ayu disisi kanan dan kiri. Aku disambut dengan senyumnya lewat gambar. Han sangat berbeda. Aku balik tersenyum. Hei, itu hanya gambar. Sadar.
Aku bejalan mendekati panggung.
Deg.
Aku melihatnya. Ku tatap lamat-lamat. Dia benar-benar Han. Batinku.
Aku melambaikan tangan. Dia masih belum melihatku. Aku melangkah lebih dekat ke panggung. Kali ini aku mencoba mengulurkan lenganku lebih panjang diantara para penonton lainnya. Dan ini berhasil mencuri matanya untuk melihatku barang sejenak, mungkin karena aku paling mencolok dari yang lain. Aku tersenyum.
Tapi, demi apapun, dia seperti tidak mengenaliku. Sama sekali. Sekedar melihat, seperti melihat fans-fansnya yang lain. Setelahnya, dia mulai memainkan gitar dan bernyanyi. Selebihnya, aku hanyalah ampas kopi.
Demi apapun, seujung kukunya aku tetap tahu kalau itu Han.
Aku mundur ke dereten penonton paling belakang. Niat untuk menyusulnya setelah selesai bernyanyi atau niat bernyanyi bersama–aku urungkan. Takut jikalau Han tidak lagi mengenaliku. Dan aku akan diberlakukan lebih dari sekedar ampas kopi.
Deal. Aku putuskan untuk menunggu acara hingga selesai. Berharap setelah ini dia benar-benar menemuiku. Untuk sekedar say “Hai”.
Aku duduk menepi diantara keramaian. Menjauh dari panggung. Di atas panggung terdapat lampu kelap-kelip persis seperti lampu disko. Panggung kafe berada di tengah-tengah ruangan, jadi semua penonton mengelilingi panggung. Berteriak histeris ketika Han memberikan Kiss Bye kepada penonton dengan sembrono. Jujur saja aku cemburu.
Aku bahkan memerhatikan detail Han dari kejauhan. Dan sumpah demi apa lagi, dia berbeda. Jauh berbeda.
Kukunya. Bukankah dulu dia mengatakan kalau tidak suka menggunakan cat kuku. Kenapa sekarang menguning. Wajahnya. Sangat terlihat jelas dia memakai make-up. Aku lebih suka dia tanpa riasan wajah. Natural seperti dulu. Bagiku itu sangat cantik.
23:00. Sampai acara selesai. Han belum juga menemuiku. Padahal aku tadi melihat ia menggandeng tangan lelaki yang sering ku panggil ‘Bos’ beringsut mundur dari keramaian. Bergandengan tangan. Sesekali melindungi Han-ku dengan lengannya yang panjang jauh dari penonton. B*ngsat.
Ah, aku kelewat mabuk untuk melihat jelas apakah itu sejenis gandengan tangan seorang fans fanatik atau sejenis bodyguard atau .... ah, entahlah. Aku hanya akan menunggu Han menemuiku. Titik.
23:30. Aku mengantuk. Setengahnya lagi mabuk. Kepalaku mulai pusing. Sepertinya aku tidak minum banyak. Ah, memang tidak banyak. Yang kuminum memang tak sebanyak yang kulihat ia bergandengan tangan erat dengan lelaki muda dan kaya itu. Aku mulai menghayal. Perihal masa lalu bersama Han, kekasihku. Tidak terasa air mataku merembes keluar. sesekali ku seka dengan lengan kemeja biruku.
Ah, kenapa aku cengeng sekali. Tidak biasanya aku menangis seperti ini. Dasar wanita.
Apa yang aku lihat tadi adalah hal yang aku cemaskan sejak dua tahun lalu. Apa yang aku lihat tadi adalah hal yang aku takutkan saat dia memilih pergi. Apa yang aku lihat tadi adalah hal normal yang biasa orang-orang katakan padaku. Apa yang aku lihat tadi adalah wanitaku yang digandeng kekasih barunya.
DIRHAN AYUMI.
Kau memilih jalan normal yang dulu pernah menyiksamu. Dirhan, kekasihku. Kita tak lagi sama. Jelas kau tak lagi menganggapku sebagai kekasih sesamamu.

-fin-

Jenis cerita diatas kubuat setengah mabuk. Setengahnya lagi inspirasi di luar naluri. ambil hikmahnya ya guys.
Adbox