Senja Berbicara

Guys... ini cerpen udah lama banget. waktu itu aku buat untuk ikut ajang nulis bareng yang akhirnya udah dibukukan dalam sebuah antologi cerpen bertema senja. jadi, judul bukunya 'Kemilau Kemuning Senja'. hehe...

Fotografer by Furi Rain
Bulir-bulir peluh membasahi pelipisku, berjalan perlahan hingga mengaliri pipi yang sudah kutaburi tipis bedak baby favoritku. Sesekali kuseka dengan ujung jari tanganku yang juga mulai berkeringat dingin. Detak jantung tak beraturan, berdetak lebih cepat dari biasanya. Darahpun mengalir lebih deras dari ujung kapala hingga ujung kaki. Tarik nafas, lalu keluarkan. Berkali-kali kulakukan itu. Berdiri, berjalan kekakan, kekiri lalu duduk lagi. Ku pandang diriku sendiri didepan cermin, memperbaiki jilbab hitam yang kukenakan. Senyum. Lalu duduk lagi. Ku lirik layar HP. Satu pesan.

“Rumahnya yang mana sayang? Aku sudah di jalan menurun ni!” Rian. Mati aku. Semakin kencang detak jantungku. Gugup.
“Apa? Balik lagi. Rumahku gak sampai sana. Itu terlalu jauh. Aku tunggu sayang didepan rumah ya.” Balas pesanku pada Rian, pacarku.
            Aku berjalan dengan hati antara bahagia, gugup, malu dan lain sebagaianya. Bagaimana tidak? Ini adalah kali pertamanya aku mempunyai pacar. Dan hari ini juga aku akan jalan denganya. Selama SMA aku dikenal tidak pernah pacaran dan termasuk siswa yang baik dan berprestasi. Ini pertemuan pertama kita setelah empat hari yang lalu kami jadian. Padahal sudah satu tahun aku memendam perasaan cinta padanya. Dan tiga hari yang akan datang aku akan pergi untuk melanjutkan kuliah diluar kota. Terpaksa kami harus menjalani LDR atau Long Distance Relationship atau hubungan jarak jauh.
            Diujung jalan sebelah timur ku melihatnya dengan mengenakan jaket abu-abu bercampur ungu, wajahnya terlihat dari kejauhan karena kaca helm yang ia kenakan tidak ditutup. Hati ini semakin tak beraturan. Pikiran berkecamuk. Kaki ku sedikit gemetar. Tanganku gugup. Motornya semakin mendekat kearahku. Kupersiapkan senyuman termanisku untuknya. Ku tarik nafas dalam-dalam. Tenang. Dan kini dia benar-benar dihadapanku dengan sesungging senyum manisnya hingga nampak gigi gingsulnya. Seketika membuatku benar-benar terpesona. Ku tatap wajahnya lamat-lamat. Ia masih duduk diatas motornya, lalu mempersilahkanku duduk dibelakangnya. Dia melirik jam di HP nya. Pukul 17.05 WIB.
“Udah siap? Kita berangkat ya.” Kata Rian dengan nada seperti pilot yang hendak lepas landas. Aku tersenyum dan mengiyakan saja. Akupun senyum-senyum sendiri saat diatas motornya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Jujur saja ini kali pertamanya aku berboncengan berdua dengan seorang pacar. Gugup tentu saja. Malu tentu saja iya.
            Rian lalu mengatur kaca spion kirinya agar ia dapat melihatku. Aku melarangnya, karena aku benar-benar malu. Tapi ia tetap melakukan. Aku semakin tersipu saat ia mencuri pandangan melalui kaca spionya. Lalu dia menyerahkan HP nya kepadaku dan menyuruhku untuk membaca semua pesanya. Aku melakukanya. Lagi-lagi aku hanya senyum-senyum sendiri. Membaca beberapa pesan dari kakak senior yang sengaja mencandai dirinya denganku. Rian pun mneceritakan kronologi pesan itu. Dan lagi-lagi aku hanya tersenyum. Kulirik kaca spion itu, tak sengaja pandangan kita bertemu. Dia tersenyum manja dan satu pukulanku mendarat di bahunya. Dia mengaduh, dan ku lihat gelak tawanya. Benar-benar bahagia aku saat ini. Tuhan, apakah ini namanya Cinta? Di satu sisi aku merasakan bahagia tapi sisi lain aku merasa sangat sedih tiada terkira. Sedih yang tiada kutemu titik kecerahan.
            “Fira sayang,,, aku ingin menunjukan sesuatu sama kamu.” Wajahnya serius terlihat dari kaca spion motornya. Dia masih fokus menyetir. Dan tiba-tiba jari telunjuk kirinya menunjuk keujung sebelah barat.
            “Lihat itu! Indah kan?” tanya Rian padaku. Aku mengangguk dan terpana melihat pemandangan senja kala itu. Indah sekali. Hamparan hijaunya padang rumput yang membentang luas bak permadani dipadu dengan orange langit. Beberapa burungpun ikut mempercantik pemandangan senja itu. Matahari dengan lingkaran sempurnanya berwarna orange perlahan mulai bersembunyi. Beberapa awan hendak menghalangi sinar matahari senja itu namun awan seolah tau bahwa dua insan yang sedang menikmati senja kala itu sedang terpana oleh kecantikan merah saga sang matahari senja.
            “Inikah yang mau kamu tunjukan padaku? Indah sekali. Indaaah sekali sayang. Makasih ya.” Kataku dengan mata berkaca-kaca. Haru. Ini tak pernah kualami sebelumnya. Bersama orang yang aku cintai. Karena aku selalu tersibukkan oleh gelapnya kehidupan rumah. Tersibukkan oleh sunyinya dan heningnya hidup. Tersibukkan oleh kesendirianku. Tapi sore ini, Rian benar-benar membuka mataku. Bahwa hidup itu indah. Indah karena kita memiliki cinta. Dan cinta itulah yang membuat indah. Membuka hati dan pikiran bahwa hidup tak selamanya hening, tak selamanya gelap, tak selamanya sendiri. Asalkan masih terselip cinta dihati kita maka semua akan indah. Seperti indahnya senja sore ini. Yang kulalui bersama orang yang kucintai. Rian.
            “Fira, Aku Cinta Kamu” Rian dengan wajahnya yang serius mengatakanya kepadaku. Disaksikan oleh hamparan hijaunya  padang rumput dan matahari senja sore ini. Semuanya menyaksikan. Senja ini. Dunia seolah berhenti berputar. Jantungku berhenti berdetak. Tak kurasakan aliran darahkan lagi. Aku benar-benar terbawa oleh suasana senja sore itu. Dia menyatakan itu untuk pertama kalinya secara langsung. Dan dialah orang pertama yang mengatakanya kepadaku. Apakah ini mimpi? Tidak. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Ia melanjutkan kalimatnya,
“Kamu tahu begitu indahnya matahari senja itu. Tapi sungguh dirimu jauh lebih indah dimataku. Aku mencintaimu, Fira”.
“ Iya. Aku juga mencintaimu. And I want to stand here with you, Rian.” Jawabku serius.
“Boleh ku genggam tanganmu?” katanya. Tangan kirinya menengadah kepadaku. Seolah menunggu tanganku mendarat ditanganya. Membuat hati ini semakin tak karuan. Benar-benar dalam kebimbangan. Tuhan, sungguh aku mencintainya. Dia membuatku bahagia. Tapi kenapa harus seperti ini? Kenapa harus pada dia? Kenapa harus pada kepercayaan? Ya. Kepercayaan. Kenapa Tuhan?
“Boleh?” katanya dengan lebih serius. Lalu aku menggeleng. Ku lihat raut wajah yang kecewa padanya. Tapi ia tetap berusaha tersenyum agar aku juga tetap tersenyum. Ku yakin apa yang ia pikirkan sama dengan apa yang ku pikirkan. Pikiran pada satu masalah yang memang tak akan pernah ada ujungnya. Seketika ku lihat matahari seolah ia juga merasakan kesedihan yang tiba saja melanda hatiku. Dan senja ini. Senja sore ini tak akan pernah lupa bahwa kami pernah merasakan indahnya cinta.  Walau kami berbeda kepercayaan.
                                                                  ***
            Tujuh bulan sudah aku menjalani hubungan ini. Walau terpisah jarak dan waktu yang cukup jauh tapi kami selalu percaya dan saling setia. Keterbukaan dan kejujuran adalah kunci kami untuk mempertahankan segala perasaan yang ada. Ketika aku merasa rindu dengannya maka aku akan pergi kepantai dan melihat matahari yang hendak membenamkan dirinya. Karena dengan melihat matahari senja-lah semua rindu akan  terluapkan. Seolah senja telah menjadi teman saat aku merasa bahagia dan sedih sekaligus. Dan mengukir senyum wajahnya yang terbayang dibenakku dikanvas orange yang membentang luas diselimuti mega-mega. Langit senja itu. Masih tetapi indah. Indah karena cinta. Cinta antara dua insan yang berbeda agama. Aku seorang muslim dan Rian seorang nasrani.
Menyedihkan memang. Saat aku mulai merasakan indahnya cinta, saat itu pula aku merasakan kesedihan karena cinta. Saat aku menemukan seseorang yang mampu mengubah duniaku, saat itu pula dunia menjadi jauh lebih gelap dari sebelumnya. Saat aku mampu tersenyum bahagia bersamanya, saat itu pula bulir-bulir air mata menetes menbanjiri mataku. Lalu dimana letak indahnya? Dimana letak kebahagiaanya? Mencintai seseorang yang berbeda kepercayaan itu membahagiaakan sekaligus menyakitkan. Lalu bagaimana aku dan Rian bisa bertahan hingga tujuh bulan? Tetap  mengerti, percaya dan setia. Diselingi oleh tawa bahagia hingga air mata kesedihan.
Tapi senja sore ini, tiba berubah memecah lamunanku. Segerombolan awan hitam dengan cepatnya menutup matahari orange yang indah itu, hingga segerombolan yang lain menutup langit dan merapatkan barisanya. Laut yang sedari tadi tenang kini mulai berontak dengan menghantamkan ombaknya keras hingga menabrak bebatuan dipantai. Kilatan-kilatan petir mulai terlihat diufuk barat. Gemuruhnya hadir memekakan telingaku. Kenapa? Kenapa kali ini senja tidak bersahabat denganku? Membuyarkan bayangku pada seseorang yang aku cintai. Menghapus lukisan-lukisan wajahnya yang kuukir indah dilangit. Seakan membangunkanku dari angan-angan belaka. Angan-angan dan harapan yang tak akan pernah ada ujungnya.  Ya. Harapan untuk menyatukan cinta kita. Cinta beda agama. Itu tak akan mungkin.
Senja itu, seolah menggungahku dari butanya diriku terhadap cinta. Membangunkanku dari kesedihan yang selama ini ku rasakan. Aku dan Rian memang tak akan pernah bersatu dengan perbedaan agama kita. Walau kami saling mencintai, tapi saling menunggu untuk masuk kedalam agama kami masing-masing memang tidaklah mungkin. Kecuali dengan kekuatan cinta Tuhan yang dapat mempersatukan kita dalam satu agama. Mempertahankan ego kami memang dapat menyakiti hati kami. Dan salah satunya cara untuk mengakhiri kesedihan ini adalah dengan mengakhiri hubunganku denganya. Sungguh berat bagiku dan juga baginya. Tapi tak ada jalan untuk dapat mengakhiri kesedihan dari dua insan yang saling mencintai dalam perbedaan agama ini.
Malam itu, adalah awal yang berat untukku mengakhiri hubungan kita. Tapi aku harus melakukanya. Senja itu benar. Bersatu dalam dua agama tidaklah mungkin. Dan terus bertahan dalam kesedihan adalah hal bodoh. Dan kini aku benar-benar melakukanya. Dan air mata ini tak henti-hentinya mengalir hingga menganak sungai dipipi. Hati ini seperti tertusuk oleh ribuan pedang tajam. Jiwa ini seolah hilang untuk sesaat. Tapi ini sudah keputusan kita berdua. Untuk mengakiri kesedihan yang selama ini memenjara kami berdua.
Dan kini saatnya kesedihan baru berdatangan. Datang untuk waktu yang sangat lama dan sungguh sangat menyiksa batinku. Karena kenangan yang pernah kita lalui bersama masih tergambar jelas dipikiranku. Begitu indah dan begitu membahagiakan. Namun perlahan aku memang harus melupakan kenangan yang dapat menyayat hatiku. Perih akibat luka masa lalu kini melanda diriku. Dan aku harus mampu mengusirnya. Selamat datang kesedihan baru bersama kenangan masa lalu. Aku akan menghadapimu. Sendiri. Tanpa Rian. Dan tanpa Cinta. Hingga aku dapat menemukan cinta yang baru yang dapat membuat hidupku kembali. Senja memang tak merestui kita. Karena kita berbeda agama.

Adbox